Partai Rakyat Kecoak Viral di India, Ribuan Anak Muda Daftar sebagai Bentuk Protes Satir

- Kamis, 21 Mei 2026 | 11:00 WIB
Partai Rakyat Kecoak Viral di India, Ribuan Anak Muda Daftar sebagai Bentuk Protes Satir

Kemunculan sebuah partai politik fiktif bernama Partai Rakyat Kecoak di India menjadi fenomena viral yang berhasil mengumpulkan jutaan pengikut hanya dalam hitungan hari, menandai bentuk perlawanan satir generasi muda terhadap pernyataan kontroversial seorang pejabat tinggi negara.

Partai ini digagas oleh Abhijeet Dipke, seorang pemuda berusia 30 tahun yang merupakan lulusan jurusan hubungan masyarakat dari Universitas Boston, Amerika Serikat. Ide tersebut lahir sebagai respons atas pernyataan Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, dalam sebuah sidang terbuka pada Jumat, 15 Mei 2026. Dalam kesempatan itu, Kant menyebut bahwa “parasit” tengah menyerang sistem dan secara blak-blakan menyamakan kaum muda dengan kecoak yang tidak memiliki pekerjaan atau tempat dalam profesi apa pun.

“Ada kaum muda seperti kecoak, yang tidak mendapatkan pekerjaan atau memiliki tempat dalam profesi apa pun. Beberapa dari mereka menjadi media, beberapa menjadi media sosial, aktivis RTI dan aktivis lainnya, dan mereka mulai menyerang semua orang,” ujar Kant dalam persidangan.

Menanggapi sindiran tersebut, Dipke awalnya hanya membuat lelucon tentang Partai Janta Kecoak di mana “janta” berarti rakyat dalam bahasa Hindi. Namun, lelucon itu berkembang menjadi gerakan nyata ketika ribuan anak muda India berbondong-bondong mengikutinya di media sosial. Dalam situs resminya, partai ini mencantumkan misi yang sarat satire: “Mengadakan pesta untuk anak muda yang terus-menerus disebut malas, selalu online, dan baru-baru ini kecoak. Itu saja. Itulah misinya. Selebihnya adalah satir.”

Sementara itu, Surya Kant kemudian memberikan klarifikasi atas pernyataannya. Ia menegaskan bahwa komentarnya hanya ditujukan kepada segelintir orang yang memperoleh gelar palsu, bukan kepada seluruh kaum muda India yang ia sebut sebagai “pilar India yang maju”. Meski demikian, klarifikasi tersebut tidak mampu meredam kemarahan publik, terutama dari kalangan Generasi Z yang tengah bergulat dengan masalah pengangguran massal, inflasi, dan perpecahan agama di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi.

Ketika kemarahan terus meningkat di media sosial, Dipke mengunggah cuitan di platform X pada hari Sabtu: “Bagaimana jika semua kecoa berkumpul?” Ia menjelaskan bahwa gerakan ini merupakan bentuk perlawanan khas anak muda. Dipke juga mengungkapkan alasan di balik pemilihan simbol kecoa.

“Mereka yang berkuasa menganggap warga negara sebagai kecoa dan parasit,” kata Dipke kepada Al Jazeera dari Chicago pada Selasa, 20 Mei. “Mereka harus tahu bahwa kecoa berkembang biak di tempat-tempat yang busuk. Itulah India saat ini.”

Dalam waktu singkat, akun Instagram Partai Janta Kecoak berhasil melampaui tiga juta pengikut hanya dalam tiga hari. Lebih dari 350.000 orang telah mendaftar sebagai anggota partai melalui formulir Google. Yang menarik, sejumlah tokoh politik penting turut mendaftar, termasuk Mahua Moitra, anggota parlemen oposisi dari Benggala Barat, serta Kirti Azad, mantan anggota parlemen dari Bihar.

Ashish Joshi, seorang birokrat India yang pensiun dari dinas federal awal tahun ini, termasuk salah satu orang pertama yang mendaftar. Ia mengaku menemukan partai tersebut melalui media sosial. “Dalam dekade terakhir, ada banyak ketakutan di negara ini. Dan orang-orang takut untuk berbicara,” ujar Joshi kepada Al Jazeera, merujuk pada tindakan keras pemerintah terhadap para penentang. “India telah menjadi begitu penuh kebencian sehingga Partai Janta Kecoak seperti hembusan udara segar.”

Joshi yang berusia 60 tahun juga menambahkan perspektif lain mengenai perumpamaan kecoa. “Kecoak adalah serangga yang tangguh; mereka bertahan hidup. Dan tampaknya mereka dapat membentuk partai dan merayap di sistem Anda,” tegasnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags