SpaceX akhirnya membuka tabir kondisi keuangan internalnya kepada publik. Perusahaan antariksa milik Elon Musk itu resmi mengajukan prospektus penawaran umum perdana (IPO) berupa dokumen S-1 kepada Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC), sebuah langkah yang menandai babak baru dalam perjalanan perusahaan menuju bursa saham.
Pengajuan tersebut dilakukan menjelang roadshow investor yang dijadwalkan berlangsung pada 5 Juni mendatang. Dalam dokumen yang diajukan, SpaceX melaporkan pendapatan konsolidasi sebesar 4,69 miliar dolar AS untuk tiga bulan yang berakhir pada 31 Maret 2026. Namun, perusahaan juga mencatat kerugian operasional mencapai 1,94 miliar dolar AS pada periode yang sama, sementara EBITDA yang disesuaikan tercatat positif sebesar 1,13 miliar dolar AS.
Secara tahunan, performa keuangan SpaceX menunjukkan skala bisnis yang terus membesar. Sepanjang 2025, perusahaan membukukan pendapatan konsolidasi sebesar 18,67 miliar dolar AS. Meskipun demikian, kerugian operasional tahun lalu mencapai 2,59 miliar dolar AS, dengan EBITDA yang disesuaikan sebesar 6,58 miliar dolar AS.
Mayoritas pendapatan konsolidasi perusahaan berasal dari dua segmen utama: Antariksa dan Konektivitas. Segmen Konektivitas, yang sebagian besar ditopang oleh layanan internet satelit Starlink, menjadi motor utama pendapatan. Pada kuartal pertama 2026, segmen ini menyumbang pendapatan sebesar 3,26 miliar dolar AS, dengan laba operasi 1,19 miliar dolar AS dan EBITDA yang disesuaikan mencapai 2,09 miliar dolar AS. Sepanjang 2025, unit ini melaporkan pendapatan 11,39 miliar dolar AS, laba operasi 4,42 miliar dolar AS, dan EBITDA yang disesuaikan sebesar 7,17 miliar dolar AS.
Hingga akhir Maret, SpaceX telah meluncurkan lebih dari 9.600 satelit Starlink dan berhasil mengumpulkan 10,3 juta pelanggan. Angka ini menunjukkan dominasi perusahaan dalam layanan internet berbasis satelit di orbit rendah Bumi.
Sementara itu, segmen Antariksa yang mencakup bisnis peluncuran roket justru mencatatkan kerugian. Pada tiga bulan pertama 2026, segmen ini menghasilkan pendapatan 619 juta dolar AS, tetapi menanggung kerugian operasional sebesar 662 juta dolar AS dan kerugian EBITDA yang disesuaikan sebesar 351 juta dolar AS. Sepanjang 2025, segmen Antariksa membukukan pendapatan 4,09 miliar dolar AS, dengan kerugian operasional 657 juta dolar AS dan kerugian EBITDA yang disesuaikan sebesar 653 juta dolar AS.
Di sisi lain, segmen Kecerdasan Buatan (AI) yang kini dikenal dengan nama SpaceXAI sebelumnya merupakan bisnis xAI menjadi salah satu penyebab utama besarnya kerugian operasional perusahaan. Pada kuartal I-2026, segmen ini mencatatkan pendapatan 818 juta dolar AS, namun kerugian operasionalnya mencapai 2,47 miliar dolar AS dan kerugian EBITDA yang disesuaikan sebesar 609 juta dolar AS. Sepanjang 2025, segmen AI tercatat mengalami kerugian hingga 6,35 miliar dolar AS.
Meskipun segmen AI membebani laporan keuangan secara keseluruhan, segmen Antariksa dan Konektivitas tercatat menguntungkan, baik dari sisi operasional maupun EBITDA. Hal ini menunjukkan bahwa bisnis inti SpaceX di bidang peluncuran dan konektivitas tetap solid, sementara investasi besar di bidang AI masih dalam tahap pengembangan.
SpaceX juga mengungkapkan bahwa perusahaan telah menghabiskan lebih dari 15 miliar dolar AS untuk mengembangkan roket generasi berikutnya, Starship. Roket ini dirancang untuk mengangkut kargo berukuran besar dan berpotensi digunakan sebagai wahana pendaratan di Bulan, sebuah proyek ambisius yang menjadi salah satu pilar visi jangka panjang perusahaan.
Proses menuju IPO ini telah melalui serangkaian tahapan. SpaceX diwajibkan mengajukan prospektus secara publik 15 hari sebelum roadshow dimulai. Sebelumnya, pada April, perusahaan secara rahasia telah mengajukan dokumen S-1 ke SEC untuk mendapatkan umpan balik. Saat itu, SpaceX dilaporkan menargetkan penggalangan dana hingga 75 miliar dolar AS, dengan valuasi mendekati 1,8 triliun dolar AS.
Angka valuasi tersebut akan melampaui kapitalisasi pasar Tesla, produsen mobil listrik yang juga dipimpin oleh Elon Musk, yang saat ini berada di kisaran 1,4 triliun dolar AS. Saham SpaceX rencananya akan diperdagangkan di bursa Nasdaq dengan kode SPCX.
Setelah saham dialokasikan kepada investor institusional dan pihak lainnya, prospektus final akan dirilis. Perdagangan saham di bursa dijadwalkan dimulai pada hari berikutnya setelah penetapan harga.
Bagi Elon Musk, IPO ini merupakan puncak dari mimpi panjangnya untuk membangun roket yang dapat digunakan bagi kolonisasi Mars. Ia mendirikan SpaceX pada 2002, dan satu dekade kemudian, pada 2012, perusahaan tersebut mulai mengirimkan kargo menggunakan roket ke Stasiun Luar Angkasa Internasional. Musk dilaporkan akan memiliki sekitar 42 persen saham SpaceX sebelum adanya dilusi. Dengan valuasi yang ditargetkan, SpaceX perlu mencapai nilai 1,6 triliun dolar AS agar Musk resmi menyandang status sebagai triliuner pertama di dunia.
Artikel Terkait
Chatib Basri Bantah Ekonomi Indonesia 2026 Setara Krisis 1998, Soroti Risiko Harga Pangan dan Kredibilitas Fiskal
Pembiayaan Cicil Emas BSI Melonjak 97,9 Persen, Tembus Rp16,93 Triliun di Tengah Tren Investasi Lindung Inflasi
Perusahaan China Incar Peluang Besar di Balik Target PLTS 100 GW Indonesia, Soroti Kebutuhan Teknologi Penyimpanan Energi
Presiden Prabowo Resmikan RSUD Lampung Barat dan Buka Munas Hipmi 2026 di Lampung