WHO Tetapkan Wabah Ebola Strain Bundibugyo di Kongo dan Uganda sebagai Darurat Kesehatan Global

- Kamis, 21 Mei 2026 | 13:30 WIB
WHO Tetapkan Wabah Ebola Strain Bundibugyo di Kongo dan Uganda sebagai Darurat Kesehatan Global

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru saja menetapkan wabah Ebola yang merebak di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan global. Status ini diumumkan setelah ditemukannya peningkatan kasus yang signifikan akibat strain virus yang tergolong langka, yakni Bundibugyo. Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik, Ayman Alatas, melalui unggahan di media sosial, memberikan penjelasan rinci mengenai penyakit mematikan ini.

Berbeda dengan wabah Ebola sebelumnya yang lebih sering disebabkan oleh strain Zaire, penyebaran kali ini dipicu oleh strain Bundibugyo, salah satu virus orthobola penyebab penyakit Ebola. Dalam cuitannya, dr. Ayman menekankan bahwa strain ini jarang muncul, namun kini telah menjadi ancaman serius di kawasan Afrika Tengah.

“Apa itu Bundibugyo? Strain Ebola yang jarang dan sudah jadi darurat kesehatan global,” tulisnya membuka untaian penjelasan.

Ebola dikenal sebagai penyakit dengan tingkat fatalitas yang tinggi. Penularannya terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, benda yang terkontaminasi, hingga jenazah pasien yang meninggal akibat infeksi tersebut. Gejala awal yang muncul meliputi demam, nyeri otot, kelemahan tubuh, dan muntah. Pada beberapa kasus, gejala tersebut diikuti dengan perdarahan.

“Gejala awal meliputi demam, nyeri tubuh, kelemahan, dan muntah, yang dalam beberapa kasus diikuti dengan perdarahan,” jelas dr. Ayman.

Tingkat kematian akibat strain Bundibugyo diperkirakan mencapai 30 hingga 40 persen. Hingga saat ini, pengobatan yang tersedia masih terbatas pada perawatan suportif untuk meredakan gejala dan memperkuat daya tahan tubuh pasien.

Wabah kali ini disebut sebagai outbreak Bundibugyo terbesar yang pernah tercatat. Data menunjukkan sebanyak 246 kasus suspek telah dilaporkan, dengan 80 di antaranya berujung pada kematian. Kondisi ini mengindikasikan bahwa virus kemungkinan telah menyebar selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, sebelum akhirnya terdeteksi secara resmi oleh otoritas kesehatan setempat.

Menghadapi situasi yang kompleks ini, dr. Ayman mengimbau penerapan strategi pencegahan yang ketat. “Pencegahan melalui protokol keselamatan, surveilans ketat, pelacakan kontak, dan engagement komunitas menjadi strategi kontrol utama,” ujarnya.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Indonesia menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ditemukan kasus Ebola di dalam negeri. Sebagai langkah antisipasi, berbagai upaya telah disiapkan, antara lain penyiagaan petugas kesehatan di lapangan, penguatan skrining terhadap pelaku perjalanan, serta penyusunan prosedur rujukan ke rumah sakit berstandar internasional apabila ditemukan penumpang dengan gejala yang mengarah pada Ebola.

Seluruh laporan dari pintu masuk negara akan dipantau selama 24 jam melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta Public Health Emergency Operation Center (PHEOC). Kapasitas laboratorium nasional juga disiagakan penuh untuk mendukung deteksi cepat dan respons dini terhadap potensi penyebaran virus ini.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar