Jalan-jalan di Jakarta masih penuh dengan lubang bekas banjir, dan tampaknya kondisi itu akan bertahan lebih lama. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengaku belum bisa turun tangan untuk memperbaikinya dalam waktu dekat. Penyebabnya sederhana: langit masih terus mencurahkan hujan.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang tak menentu menjadi kendala utama. Menurutnya, melakukan penambalan di tengah hujan adalah pekerjaan sia-sia.
"Sampai dengan tanggal 27, belum bisa diperbaiki karena curah hujannya," ujar Pramono.
Ia menambahkan, kalau dipaksakan sekarang, material perbaikan bisa hanyut atau rusak lagi sebelum sempat mengering. Hasilnya pun pasti tidak akan bertahan lama. Makanya, Pemprov memilih untuk menunggu.
Mereka bergantung pada prakiraan dari BMKG. Jika ramalan menunjukkan cuaca akan cerah mulai 28 Januari 2026, barulah pasukan perbaikan jalan akan dikerahkan untuk menutup lubang-lubang itu.
Di sisi lain, keluhan warga sudah membanjiri media sosial. Kondisi jalan yang rusak parah itu bukan cuma mengganggu, tapi juga berbahaya.
Salah satu laporan viral datang dari akun Instagram @ijoeel. Unggahannya mendokumentasikan sejumlah titik kritis di ibukota, termasuk satu lokasi yang cukup parah.
Lokasinya ada di Jalan MT Haryono, tepat sebelum fly over Pancoran. Menurut keterangan di unggahan tersebut, lubang di titik itu sudah menyebabkan beberapa kecelakaan, terutama bagi pengendara sepeda motor.
“Udah makan korban banyak, ini jalan rusak sepanjang jalan sebelum fly over Pancoran. Udah ane tanda-tandain,” tulis @ijoeel.
Jadi, untuk sementara, pengendara di Jakarta harus tetap ekstra hati-hati. Perbaikan yang dinanti-nantikan masih terganjal oleh awan gelap di langit ibukota.
Artikel Terkait
Superbank Gelar RUPST Perdana Pasca-IPO, Catat Laba Sebelum Pajak Rp143,3 Miliar di 2025
Kementerian PU Targetkan Sekolah Rakyat Kulon Progo Rampung Juni 2026, Tampung 1.080 Siswa
Kementerian Ekraf Dorong Musisi Tak Hanya Berkarya, Tapi Juga Ciptakan Dampak Ekonomi
LEGO Buka Gerai Terbesar se-Asia Tenggara di Jakarta, Jadi Sinyal Kepercayaan Investor pada Ekonomi Indonesia