Firman Tendry Kritik Distorsi Makna Mikul Dhuwur Mendem Jero di Politik Indonesia
Esai satire karya advokat dan penulis Firman Tendry Masengi yang berjudul “Mikul Dhuwur Mendem Jero: Republik yang Mahir Mengubur Nurani” kini menjadi perhatian serius di kalangan aktivis, akademisi, dan pemerhati kebudayaan. Tulisan ini mengupas bagaimana falsafah Jawa yang mulia telah bergeser fungsi menjadi alat legitimasi kekuasaan.
Firman Tendry mengungkapkan bahwa adagium “mikul dhuwur mendem jero” yang sejatinya bertujuan memuliakan orang tua dengan kearifan, kini telah mengalami distorsi makna. Falsafah luhur ini dijadikan tameng untuk menutupi berbagai persoalan moral dalam tata kelola negara.
“Para penguasa dipikul setinggi langit meski berdiri di atas kubangan kebohongan,” tulis Firman dalam esainya tersebut.
Esai tersebut menggambarkan bagaimana nurani kolektif bangsa seakan dikubur dalam-dalam melalui berbagai seremoni politik. Prosesi ini digambarkan seperti upacara penghormatan terakhir terhadap moral publik yang sebenarnya telah lama mati.
Firman juga menyoroti paradoks keberagaman Indonesia yang kaya simbol religius, mulai dari masjid megah hingga gereja yang aktif, namun tetap tidak mampu mencegah merajalelanya kemunafikan dalam dunia politik.
“Begitu banyak simbol kesucian,” tulisnya, “namun republik ini tetap saja menjadi tanah subur bagi tipu muslihat yang bahkan iblis pun mungkin enggan meniru.”
Artikel Terkait
Nikel dan BRICS: Diplomasi Hilirisasi Indonesia di Tengah Perang Dagang Global
Prabowo Tinjau Aceh Tamiang: Uang Lelah Dikoreksi Jadi Uang Semangat
Anak Sulung: Dewasa Sebelum Waktunya, Lelah yang Tak Terucapkan
Iran Berduka: Enam Tewas dalam Kerusuhan Akibat Protes Ekonomi