Konflik antara manusia dan gajah di Way Kambas, Lampung, sudah jadi cerita lama. Bahkan, cerita pilu. Puluhan tahun berlangsung, seringkali berakhir dengan korban jiwa. Nah, dalam sebuah rapat terbatas di Istana Kepresidenan Kamis lalu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkap rencana Presiden Prabowo Subianto untuk mengatasi masalah kronis ini: membangun sebuah pagar raksasa.
Rencananya, pagar dan kanal pembatas itu akan memisahkan kawasan Taman Nasional Way Kambas dari permukiman warga. Tujuannya jelas: memitigasi konflik. Anggarannya, menurut Raja Juli, bakal bersumber dari bantuan khusus dana operasional Presiden.
"Telah terjadi konflik antara gajah dan manusia tahunan, menahun. Sudah puluhan tahun terjadi di Way Kambas, Lampung,"
kata Raja Juli usai menghadiri ratas, menjelaskan situasi di lapangan pada para awak media.
Dia lalu menyebut sebuah insiden tragis yang memicu keputusan ini. Beberapa bulan silam, seekor gajah masuk ke area pertanian dan permukiman. Akibatnya, seorang kepala desa meninggal dunia. Insiden inilah yang rupanya menyentuh Presiden.
"Namun kemudian melihat fenomena ini, sekali lagi dengan kepedulian Pak Presiden Prabowo Subianto terhadap konservasi satwa Indonesia, beliau memutuskan menyiapkan dana bantuan presiden untuk membuat pagar atau kanal, ya, yang akan membentengi antara Taman Nasional Way Kambas dengan perkampungan atau desa yang ada di sepanjang Taman Nasional Way Kambas di Lampung tersebut,"
tutur Menhut menjelaskan.
Namun begitu, jangan bayangkan proyek ini akan langsung digarap besok. Raja Juli menegaskan bahwa semuanya masih dalam tahap kajian dan uji coba teknis. Pemerintah sedang mempelajari cara negara lain, seperti Afrika dan India, menangani persoalan serupa.
"Sekarang sudah pada tahap uji coba, ya, dan studi yang komprehensif, belajar dari pengalaman Afrika, India, dalam mengelola taman nasional mereka,"
katanya.
Soal bentuknya, nanti tidak cuma satu jenis. Rencananya akan ada kombinasi infrastruktur. Di beberapa titik mungkin dibangun tanggul, di titik lain akan dipasang pagar baja berdaya tahan tinggi yang khusus dirancang untuk menahan laju gajah.
“Jadi kemungkinan nanti akan ada tanggul di beberapa tempat, tapi juga akan ada pagar, ya, dari baja yang sangat kuat. Sekarang sedang diuji kekuatannya, ya,”
jelasnya.
Di sisi lain, proyek ambisius ini punya dimensi lain yang tak kalah penting: pemberdayaan masyarakat. Raja Juli berharap, upaya ini tak cuma mengamankan warga dan satwa, tapi juga bisa membuka keran ekonomi baru bagi penduduk lokal yang hidup berdampingan dengan taman nasional.
“Di mana nanti sekali lagi alam terjaga, satwa terjaga, namun juga apa, baik sekali bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat itu sendiri,”
pungkasnya.
Jika terwujud, pagar raksasa di Way Kambas ini mungkin akan menjadi salah satu upaya fisik terbesar untuk mendamaikan hubungan lama yang kerap berdarah antara manusia dan gajah Sumatera.
Artikel Terkait
Mahfud MD: Hukum Jamin Hak Pro dan Kontra soal Prabowo, Tapi Pemakzulan Punya Syarat Berat
Raptors Samai Kedudukan Usai Kalahkan Cavaliers 93-89 di Laga Keempat Playoff NBA
Wamendagri Bima Arya Tegaskan Efisiensi Bukan Sekadar Potong Anggaran di Peringatan Hari Otonomi Daerah ke-30
Veda Ega dan Kiandra Ramadhipa Ukir Sejarah di Jerez, Bukti Regenerasi Pembalap Indonesia Makin Nyata