Wall Street Menguat di Tengah Data Inflasi Produsen yang Beragam

- Kamis, 11 Juni 2026 | 22:15 WIB
Wall Street Menguat di Tengah Data Inflasi Produsen yang Beragam

Wall Street berhasil membukukan penguatan pada perdagangan Kamis (12/6/2026) waktu setempat, meskipun pasar masih dihantui oleh ketegangan geopolitik yang berlangsung di Timur Tengah. Investor memanfaatkan momen tersebut untuk mencermati data inflasi produsen Amerika Serikat yang dirilis dengan gambaran beragam.

Indeks S&P 500 tercatat menguat 0,7 persen ke level 7.315,21. Sementara itu, indeks teknologi Nasdaq Composite naik 1 persen menjadi 25.420,96, dan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,6 persen ke posisi 50.236,11. Kinerja positif ini menjadi rebound setelah Wall Street tertekan pada sesi sebelumnya akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan belanja kecerdasan buatan dan prospek suku bunga yang lebih tinggi.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa inflasi produsen pada Mei 2026 naik 1,1 persen secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan konsensus pasar sebesar 0,7 persen dan sama dengan kenaikan pada April. Secara tahunan, inflasi produsen utama melonjak 6,5 persen, mencatat level tertinggi sejak November 2022 dan sedikit di atas ekspektasi pasar sebesar 6,4 persen.

Namun, tekanan inflasi inti justru menunjukkan tanda-tanda moderasi. Inflasi produsen inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi hanya naik 0,4 persen secara bulanan dan 4,9 persen secara tahunan. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan analis yang masing-masing berada di level 0,5 persen dan 5,4 persen.

Ekonom sekaligus mantan CEO PIMCO, Mohamed El-Erian, menilai data tersebut memberikan sinyal bahwa lonjakan harga energi belum sepenuhnya menular ke komponen harga yang lebih luas. Menurutnya, pola tersebut sejalan dengan data inflasi konsumen AS yang dirilis sehari sebelumnya.

“Inflasi PPI AS pada Mei memang lebih panas dari perkiraan pada level utama, tetapi lebih rendah pada level inti. Ini menunjukkan dampak harga energi terhadap inflasi yang lebih luas masih relatif terbatas untuk saat ini,” tulis El-Erian melalui akun media sosial X.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar