Intiland Alokasikan Seluruh Laba 2025 untuk Perkuat Modal, Tak Bagi Dividen

- Kamis, 11 Juni 2026 | 19:55 WIB
Intiland Alokasikan Seluruh Laba 2025 untuk Perkuat Modal, Tak Bagi Dividen

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Intiland Development Tbk (DILD) memutuskan untuk mengalokasikan seluruh laba bersih tahun buku 2025 guna memperkuat struktur permodalan perusahaan, sehingga tidak ada pembagian dividen kepada pemegang saham.

Keputusan itu diambil dalam agenda tahunan yang digelar pada Rabu (10/6/2026). Dari total laba bersih yang diraup, sebesar Rp2 miliar dialokasikan sebagai dana cadangan wajib, sementara sisanya sebesar Rp62,26 miliar akan dicatat sebagai saldo laba. Langkah ini menegaskan komitmen perseroan untuk memprioritaskan penguatan neraca keuangan di tengah tekanan industri properti.

Direktur Utama DILD, Archied Noto Pradono, dalam paparan publik setelah RUPST menyatakan bahwa strategi pengurangan utang atau deleveraging masih menjadi prioritas utama sepanjang 2026. Menurutnya, kebijakan ini sangat krusial untuk menjaga efisiensi keuangan sekaligus meningkatkan daya tahan bisnis.

"Strategi ini sangat penting bagi kami dalam memperkuat struktur permodalan, menjaga efisiensi keuangan, serta meningkatkan daya tahan bisnis di tengah tantangan industri properti," ujar Archied.

Sepanjang 2025, perseroan berhasil memangkas total utang hingga 25 persen, dari Rp4,11 triliun pada 2024 menjadi Rp3,08 triliun. Penurunan signifikan itu dicapai melalui restrukturisasi pinjaman, percepatan pelunasan kewajiban, penjualan aset non-inti, serta pelunasan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Intiland Development Tahap II dan Tahap III Seri B Tahun 2022.

Memasuki tahun 2026, Archied menegaskan bahwa pihaknya tetap memilih pendekatan konservatif dalam menjalankan bisnis. Fokus utama perseroan diarahkan pada proyek-proyek yang sudah berjalan, sementara pengembangan proyek baru akan dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan daya serap konsumen.

"Tahun ini, kami masih cenderung konservatif dengan mengandalkan proyek-proyek yang ada. Pengembangan proyek baru tetap kami siapkan tetapi dilakukan sangat hati-hati, dengan mencermati peluang dan momentum yang tepat serta daya serap pasar," ujar Archied.

Pada triwulan I-2026, DILD membukukan pendapatan usaha sebesar Rp619,8 miliar, atau turun 3,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kontribusi terbesar berasal dari segmen pendapatan berulang atau recurring income yang mencapai Rp232,6 miliar, setara 37,5 persen dari total pendapatan. Disusul bisnis kawasan industri sebesar Rp227,4 miliar atau 36,7 persen, perumahan Rp121,9 miliar atau 19,7 persen, serta high-rise residential Rp37,9 miliar atau 6,1 persen.

Meskipun pasar masih selektif, DILD optimistis dapat mencapai target marketing sales sebesar Rp1,95 triliun pada 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun lalu yang mencapai Rp1,61 triliun. Untuk mengejar target tersebut, perseroan menyiapkan sejumlah strategi, termasuk pengembangan kawasan industri baru di Jawa Timur serta peluncuran Tower E Apartemen SQ Res pada semester kedua tahun ini.

"Kami melihat peluang pertumbuhan masih terbuka, terutama pada segmen yang memiliki kebutuhan nyata dan daya serap pasar yang lebih kuat. Strategi pemasaran dan pengembangan kami jalankan secara lebih terukur agar dapat mendukung pencapaian target kinerja sekaligus menjaga fundamental Perseroan tetap sehat," ujar Archied.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar