Pasar saham Amerika Serikat akan menghadapi ujian berat pekan depan. Hasil rapat Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung Rabu mendatang diharapkan bisa memberikan gambaran yang lebih jelas soal arah suku bunga. Di saat bersamaan, gelombang laporan keuangan dari raksasa teknologi dan kecerdasan buatan juga akan menguji ketahanan Wall Street.
Pekan ini, indeks-indeks utama Wall Street ditutup melemah setelah saham Alphabet dan Tesla anjlok pasca merilis laporan keuangan kuartalan. Alphabet, induk Google, mendapat tekanan karena keputusan perusahaan untuk kembali meningkatkan belanja modal di bidang kecerdasan buatan yang sudah sangat besar. Kondisi ini menciptakan sentimen negatif menjelang laporan keuangan pekan depan dari hyperscaler AI lainnya, yakni Microsoft, Amazon, dan Meta Platforms.
Saham-saham terkait AI selama ini menjadi motor utama kenaikan pasar saham dan membantu mendorong pasar bullish. Meski sempat tertekan pekan ini, indeks S&P 500 masih mencatat kenaikan lebih dari 8 persen sepanjang 2026.
Rapat The Fed kali ini berlangsung di tengah lonjakan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Harga minyak Brent sempat menyentuh 100 dolar AS per barel pada Kamis lalu. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran bahwa pembuat kebijakan moneter perlu bersikap lebih agresif dalam menaikkan suku bunga guna mengendalikan inflasi yang masih jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen.
Pasar secara umum memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga. Namun, hingga Jumat malam, kontrak berjangka Fed Funds masih mencerminkan peluang sebesar 38 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, menurut data LSEG.
Sebagian pelaku pasar di Wall Street menilai masih ada kemungkinan The Fed memberikan kejutan. Hal ini karena Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, tengah mengubah cara bank sentral berkomunikasi mengenai kebijakan moneternya. “Kemungkinan adanya kenaikan suku bunga yang mengejutkan tidak bisa sepenuhnya dikesampingkan,” tulis ekonom BNP Paribas dalam catatan riset pekan ini.
Pertemuan kali ini merupakan rapat kedua di bawah kepemimpinan Warsh. Dia memilih untuk tidak memberikan forward guidance, meski menegaskan komitmennya membawa inflasi kembali ke target. Sekalipun The Fed mempertahankan suku bunga pada Rabu, investor akan mencermati setiap petunjuk mengenai arah kebijakan berikutnya, baik dalam pernyataan resmi maupun konferensi pers Warsh setelah rapat.
Saat ini, pasar kontrak berjangka Fed Funds memperkirakan akan ada dua kali kenaikan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin hingga rapat Januari 2027. Kenaikan suku bunga dapat mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury tenor 10 tahun, yang telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir, sempat melampaui 4,7 persen pada Kamis, level tertinggi sejak awal 2025.
Selain itu, investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi penting AS pekan depan, termasuk pertumbuhan produk domestik bruto kuartal II, inflasi bulanan, serta indeks sentimen konsumen.
Artikel Terkait
Wall Street Anjlok, Saham Teknologi Tertekan dan Minyak Tembus USD100
Harga Emas Sentuh Level Tertinggi Dua Pekan, Dolar AS Melemah
Wall Street Melemah Jelang Rilis Laporan Keuangan Raksasa Teknologi
Harga Emas Dunia Menguat Lebih dari 1 Persen, Didorong Harapan Gencatan Senjata AS-Iran