Bank Sentral Eropa (ECB) secara resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,25 persen, naik dari posisi sebelumnya yang berada di angka 2 persen. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tekanan inflasi yang kian meningkat, dipicu oleh lonjakan harga energi di tengah konflik Iran yang masih berlangsung.
Dalam pernyataan resminya, ECB menegaskan bahwa keputusan tersebut dinilai kuat dalam berbagai skenario yang memetakan bagaimana guncangan ekonomi dapat berkembang dan memengaruhi prospek jangka menengah. Pihak bank sentral juga mengaku telah mempertimbangkan secara matang perkembangan konflik di Timur Tengah serta dampaknya terhadap inflasi di 21 negara anggota zona euro.
Kenaikan ini menandai pertama kalinya dalam hampir tiga tahun terakhir ECB menaikkan suku bunga, dan langkah tersebut dinilai sesuai dengan ekspektasi pasar. Seiring meningkatnya risiko inflasi akibat lonjakan harga minyak, ekspektasi terhadap kebijakan moneter global pun berubah secara signifikan. Pada awal 2026, banyak bank sentral diperkirakan akan memangkas suku bunga, namun kini pelaku pasar justru mulai memperkirakan arah kebijakan yang lebih ketat.
Lonjakan harga energi dipicu oleh terganggunya pasokan minyak global, termasuk penutupan berkepanjangan Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis di selatan Iran itu menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. Tekanan tersebut mulai tercermin pada inflasi kawasan euro yang kini berada di atas 3 persen, melampaui target ECB sebesar 2 persen.
Analis ING Group menilai, ECB berupaya menunjukkan respons yang lebih cepat dalam menghadapi ancaman inflasi agar tidak mengulangi keterlambatan kebijakan seperti yang terjadi saat gelombang inflasi pada 2021 dan 2022.
“Secara resmi, kenaikan suku bunga ini merupakan langkah antisipatif untuk tetap berada di depan kurva inflasi. Namun secara tidak resmi, ECB tampaknya juga masih dibayangi pengalaman masa lalu saat menghadapi lonjakan harga,” tulis analis ING dalam risetnya.
Bersamaan dengan keputusan tersebut, ECB juga merevisi naik proyeksi inflasi kawasan euro. Inflasi diperkirakan mencapai rata-rata 3 persen pada 2026, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 2,6 persen. Untuk 2027, inflasi diperkirakan berada di level 2,3 persen, naik dari estimasi sebelumnya 2 persen. Sementara pada 2028, inflasi diproyeksikan sebesar 2 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya 2,1 persen.
Di sisi lain, prospek pertumbuhan ekonomi kawasan euro justru mengalami penurunan. ECB memangkas proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) menjadi 0,8 persen pada tahun ini, dari sebelumnya 0,9 persen.
Artikel Terkait
Gerindra Bantah Instruksikan Kader Miliki Dapur SPPG, Sebut Inisiatif Pribadi
Said Didu Nilai Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis Menyimpang Jauh dari Prosedur Pengadaan Pemerintah
Pertamina: Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Pertimbangkan Daya Beli Masyarakat
KPK Sita Rp200 Juta dan Mobil Mewah dalam Kasus Suap Audit BPK yang Seret Bupati Muara Enim