Adira Finance Waspadai Tekanan Pembiayaan Kendaraan di Semester II

- Kamis, 30 Juli 2026 | 23:35 WIB
Adira Finance Waspadai Tekanan Pembiayaan Kendaraan di Semester II

PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) memperkirakan bisnis pembiayaan kendaraan pada semester II-2026 akan semakin berat. Tekanan datang dari potensi kenaikan suku bunga acuan BI Rate yang bisa mendongkrak biaya dana perseroan.

Direktur Utama Adira Finance, I Dewa Made Susila, mengatakan bahwa idealnya kenaikan biaya dana diikuti dengan penyesuaian bunga kredit kepada nasabah agar margin tetap terjaga. Namun, anak usaha PT Bank Danamon Indonesia Tbk itu tidak terburu-buru menaikkan suku bunga.

“Kalau dari biaya dana, biaya dana dari Adira sudah mulai meningkat, sehingga harusnya kita harus pass-on kepada nasabah. Namun demikian, dalam konteks lending rate Adira ke konsumen, kami juga mempertimbangkan beberapa hal,” katanya secara virtual, Kamis (30/7/2026).

Made menjelaskan, ada dua faktor utama yang menjadi pertimbangan sebelum menaikkan bunga pembiayaan. Pertama, daya beli konsumen Adira, terutama di segmen menengah ke bawah yang banyak mengkredit sepeda motor. Kedua, tingkat persaingan di industri multifinance yang ketat.

Meski belum semua perusahaan pembiayaan menaikkan bunga kredit, Made memproyeksikan penyesuaian bunga kredit berpeluang terjadi secara bertahap di industri karena pelaku usaha sama-sama menghadapi tekanan kenaikan biaya dana.

Di sisi lain, kinerja pembiayaan otomotif sepanjang semester I-2026 masih menunjukkan perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penjualan ritel sepeda motor maupun mobil baru masing-masing tumbuh dua digit.

“Data yang kami punya, untuk motor baru penjualan naik 10 persen dibandingkan semester pertama, sementara untuk penjualan mobil baru naik 11 persen. Ini penjualan retail ya, bukan wholesale,” ujarnya.

Namun, memasuki semester II-2026, Made memperkirakan pasar otomotif akan menghadapi tekanan. Selain potensi kenaikan bunga kredit yang meningkatkan cicilan nasabah, harga kendaraan juga diperkirakan naik akibat tingginya biaya produksi dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Kondisi tersebut dinilai dapat menekan minat masyarakat membeli kendaraan baru sehingga pelaku industri perlu lebih berhati-hati dalam menjaga pertumbuhan bisnis hingga akhir tahun.

“Kelihatannya angka ini akan cukup challenging di semester dua, karena ada beberapa perkembangan yang akan berdampak terhadap penjualan. Jadi kelihatannya situasinya lebih challenging dibandingkan dengan semester pertama,” ujarnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags