Wakil Ketua MPR: Penguatan Ekosistem E-Sports Kunci Dorong Ekonomi Digital Nasional

- Rabu, 10 Juni 2026 | 19:15 WIB
Wakil Ketua MPR: Penguatan Ekosistem E-Sports Kunci Dorong Ekonomi Digital Nasional

Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono menegaskan bahwa penguatan ekosistem olahraga elektronik (e-sports) nasional merupakan langkah strategis yang tidak terpisahkan dari pengembangan ekonomi digital Indonesia. Menurut politikus yang akrab disapa Ibas itu, e-sports telah bertransformasi dari sekadar kegiatan rekreasi menjadi sebuah profesi dan ajang pencapaian prestasi yang diakui di panggung global.

"E-sports bukan lagi sekadar hobi. E-sports adalah prestasi, e-sports adalah profesi, dan e-sports adalah bagian dari ekonomi digital nasional," ujar Ibas dalam keterangan resminya pada Rabu, 10 Juni 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Diskusi Kebangsaan bertema 'E-Sports Nasional & Asian Games: Prestasi, Talenta, dan Ekonomi Digital Bangsa' yang digelar di Jakarta pada Senin, 8 Juni. Acara itu dihadiri oleh jajaran pengurus Pengurus Besar Esports Indonesia (PB ESI), para pelatih, atlet nasional, serta perwakilan tim e-sports Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Ibas menyoroti besarnya potensi Indonesia di sektor digital. Dengan lebih dari 210 juta pengguna internet yang mayoritas berasal dari kalangan generasi muda, ia menilai kondisi ini menjadi modal besar bagi Indonesia untuk menjadi kekuatan utama e-sports dunia. Masuknya e-sports ke dalam ajang Asian Games disebutnya sebagai bukti bahwa dunia olahraga telah memasuki era baru, di mana kompetisi tidak lagi terbatas pada arena fisik, melainkan juga merambah ruang digital.

Di sisi lain, Ibas mengapresiasi negara-negara yang telah lebih dahulu membangun ekosistem e-sports yang kokoh, seperti Korea Selatan, Denmark, dan Tiongkok. Ia mencontohkan figur-figur seperti 'Faker' Lee Sang-hyeok dan 'N0tail' Johan Sundstein sebagai bukti nyata bahwa ekosistem yang terbangun dengan baik mampu melahirkan juara dunia. Meski demikian, ia menegaskan bahwa Indonesia tidak kekurangan talenta. Atlet e-sports nasional telah menunjukkan prestasi di berbagai ajang internasional, namun masih diperlukan penguatan ekosistem yang berkelanjutan.

Optimisme itu bukan tanpa alasan. Sejak 2018, atlet-atlet e-sports Indonesia telah menyumbangkan total 18 medali emas, 10 medali perak, dan 10 medali perunggu dalam berbagai ajang internasional, baik single event maupun multi-event. Capaian tersebut, menurut Ibas, menunjukkan bahwa Indonesia memiliki talenta yang mampu bersaing di tingkat dunia apabila didukung oleh ekosistem yang kuat dan berkelanjutan.

Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga bersama PB ESI disebut terus memperkuat pembinaan, mulai dari pemusatan latihan nasional, sertifikasi pelatih, kompetisi berjenjang, hingga pengembangan akademi e-sports. Saat ini, liga e-sports nasional telah menjaring lebih dari 126.000 atlet dari seluruh Indonesia. Namun demikian, sejumlah tantangan masih perlu diatasi, antara lain ketidakmerataan pembinaan daerah, keterbatasan pelatih profesional, infrastruktur digital, serta stigma terhadap e-sports di sebagian masyarakat.

Untuk itu, Ibas menekankan perlunya langkah strategis berupa perluasan akademi daerah, penguatan sport science, percepatan infrastruktur digital, serta kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, DPR, industri, dan PB ESI. "Kita tidak boleh hanya menjadi pasar. Kita harus menjadi produsen talenta digital dunia," ujarnya.

Dalam sesi diskusi, berbagai pemangku kepentingan menyampaikan tantangan yang masih dihadapi dunia e-sports nasional. Wakil Ketua Harian II PB ESI, Irjen Pol. (Purn.) Dr. Benone Jesaja Louhenapessy, mengungkapkan bahwa sejak 2018, atlet e-sports Indonesia telah menyumbangkan 18 medali emas, 10 medali perak, dan 10 medali perunggu pada berbagai ajang internasional. Namun, persiapan menuju Asian Games masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari belum dimulainya pelatnas, kebutuhan training camp internasional, keterbatasan peralatan pertandingan berstandar tinggi, hingga kebutuhan pendanaan bagi pelatih dan tenaga keolahragaan.

Peserta lain juga menyoroti tantangan teknis yang kerap muncul dalam kompetisi internasional, termasuk kesiapan perangkat pertandingan, koneksi internet, perubahan teknis menjelang pertandingan, serta keterbatasan fasilitas latihan seperti practice room. Sejumlah peserta, termasuk Ahmad Marsam dan Andika Raman, menyampaikan perlunya peningkatan kualitas sparring partner, regenerasi atlet, serta dukungan perangkat kompetisi yang lebih memadai untuk menunjang performa atlet nasional.

Sementara itu, perwakilan Garudaku, Robertus, menyoroti masih kuatnya stigma terhadap e-sports di dunia pendidikan. Menurutnya, banyak sekolah dan perguruan tinggi yang belum sepenuhnya menerima e-sports sebagai bagian dari pengembangan prestasi siswa dan mahasiswa, meskipun kurikulum serta program pembinaan telah dirancang agar tidak mengganggu proses akademik. Ia juga menyoroti perlunya sinkronisasi regulasi antara sektor pendidikan, olahraga, dan ekonomi kreatif agar ekosistem e-sports nasional memiliki arah yang lebih jelas dan berkelanjutan.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, sejumlah anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat menyatakan komitmennya untuk turut mengawal pengembangan e-sports nasional. Rizki Aulia Rahman Natakusumah menilai forum dialog yang diinisiasi Edhie Baskoro menjadi ruang penting untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan kebijakan publik. Ia menegaskan dukungannya terhadap penguatan infrastruktur digital dan berbagai kebutuhan PB ESI yang dapat diperjuangkan melalui parlemen.

Senada dengan itu, Anita Jacoba Gah menyebut pengembangan e-sports menjadi pekerjaan rumah baru yang perlu mendapat perhatian lebih besar di Komisi X DPR RI. Ia menekankan pentingnya pembangunan pusat pelatihan yang profesional, dukungan pembinaan atlet hingga ke daerah, serta membuka peluang pembahasan khusus melalui Rapat Dengar Pendapat bersama pemangku kepentingan e-sports. Sementara itu, Marwan Cik Asan menilai e-sports merupakan salah satu sektor masa depan Indonesia yang memiliki potensi ekonomi sangat besar dan membutuhkan dukungan regulasi lintas komisi di DPR RI agar dapat berkembang secara optimal.

Menutup audiensi tersebut, Ibas mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan e-sports sebagai gerakan bersama yang berkelanjutan, bukan sekadar fenomena sesaat. Menurutnya, dengan pembinaan yang terarah, dukungan regulasi yang kuat, pemerataan infrastruktur digital, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, industri, dan komunitas, Indonesia memiliki peluang besar untuk melahirkan lebih banyak atlet berprestasi sekaligus memperkuat posisinya sebagai kekuatan e-sports dunia. "Kita ingin membangun ekosistem yang mandiri dan berkelanjutan. Esports bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang masa depan generasi muda Indonesia dan kebanggaan bangsa di tingkat global," pungkas Ibas.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar