Kisah Murtadnya Eks Kader Elit Muhammadiyah Saifudin Ibrahim

- Selasa, 28 Juli 2026 | 07:00 WIB
Kisah Murtadnya Eks Kader Elit Muhammadiyah Saifudin Ibrahim

Saifudin Ibrahim, mantan kader elit Muhammadiyah yang dikenal sebagai "Bang Kocek" di masa mahasantri, kini menjadi murtad dan aktif menyerang Islam. Kisahnya bermula dari keterlibatannya dalam aliran sesat NII KW IX hingga akhirnya memeluk Kristen dan menjadi pendeta yang vokal mengkritik agama sebelumnya.

Menurut penuturan Budi Nurastowo Bintriman, seorang kader Muhammadiyah yang pernah satu pondok dengan Saifudin, kemurtadan ini berawal dari kekecewaan Saifudin setelah jabatannya di Pondok Pesantren Al-Zaitun Indramayu digeser. Ia kemudian bergaul intensif dengan seorang tamu Kristen yang meminjamkan literatur keagamaan, termasuk Injil Barnabas. Dari sanalah Saifudin mengaku menemukan kebenaran sejati.

Saifudin Ibrahim adalah lulusan Pondok Hajah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) angkatan 1984. Semasa menjadi mahasantri, ia dikenal ramah, murah senyum, dan memiliki nama pena "Bang Kocek" untuk rubrik sufisme di media pers pondok. Namun, di balik keramahannya, ia juga dikenal suka mengebiri kucing kesayangannya, sebuah perilaku yang membuat beberapa orang tidak simpatik.

Pada tahun 1994, Saifudin diduga menyusupkan paham NII KW IX ke Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Arqom Sawangan, Bogor. Paham sesat itu membuat para santri berani meninggalkan shalat dan puasa, serta menggelapkan uang SPP. Budi dan enam kader lainnya berhasil membersihkan pesantren dari pengaruh NII KW IX.

Setelah kabur dari Daftar Pencarian Orang (DPO) Koramil Sawangan, Saifudin bergabung dengan Al-Zaitun. Saat itu, penampilannya berubah drastis: pakaian branded, cincin emas mencolok, dan motor Honda GL 125 cc. Ia mengaku menjabat sebagai Ketua Mahkamah Agung di "negara" NII KW IX, dengan tugas membaiat anggota baru dan memungut biaya minimal Rp20.000 per kepala.

Budi mencatat bahwa dinamika keagamaan Saifudin Ibrahim selalu didorong oleh motif materi. Dari Muhammadiyah, ia menjadi kader manis karena mendapat fasilitas kuliah gratis. Dari NII KW IX, ia loyal karena jabatan dan pendapatan. Dan dari Kristen, ia semakin arogan karena imbalan yang lebih besar. "Jika ada kepercayaan lain yang menawarkan lebih, Saifudin bisa saja berpindah lagi," tulis Budi.

Salah satu blunder Saifudin, menurut Budi, adalah pengakuannya bahwa bahasa Arab adalah satu-satunya bahasa yang paling tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Padahal, ia tidak menguasai bahasa Ibrani, bahasa asli Injil. "Ada pendeta Kristen yang sok menyerang Islam tapi tak faham bahasa kitab sucinya sendiri," ujar Budi. Ia menilai penguasaan bahasa Arab Saifudin hanya tingkat dasar, tidak cukup untuk menafsirkan Al-Qur'an.

Meski demikian, Budi tetap mendoakan agar Saifudin sadar dan bertobat. "Kalaupun tetap ngeyel, ia pasti paham hukum Islam bagi murtadun harbi," pungkasnya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags