Konglomerasi dan Taipan: Wajah Baru Kepemilikan Klub Sepak Bola Indonesia

- Rabu, 11 Maret 2026 | 23:30 WIB
Konglomerasi dan Taipan: Wajah Baru Kepemilikan Klub Sepak Bola Indonesia

MAKASSAR Ribuan sorak, sembilan puluh menit tegang, dan satu bola yang menentukan segalanya. Itulah sepak bola yang kita lihat. Tapi coba lihat lebih dalam. Di balik gegap gempita itu, ada ruang rapat yang sunyi, struktur saham yang rumit, dan jaringan bisnis para pemilik klub. Dunia itu sama pentingnya, meski tak pernah masuk siaran langsung.

Dua dekade terakhir, wajah sepak bola kita berubah total. Romantisme klub komunitas atau andalan pemda mulai memudar. Kini, banyak klub justru ditopang oleh konglomerat, perusahaan investasi, bahkan tokoh politik yang melihat lapangan hijau sebagai bagian dari ekosistem industri mereka. Super League, kompetisi papan atas kita, adalah panggung paling jelas dari transformasi ini.

Di sana, beberapa raksasa ternyata punya "penjaga" dari kalangan taipan. Kekuatan mereka jauh melampaui batas-batas stadion.

Surabaya dan Kekuatan Media

Ambil contoh Persebaya. Klub kebanggaan Bonek itu, beberapa tahun belakangan, dikelola PT Jawa Pos Sportainment. Perusahaan ini dipimpin Azrul Ananda, sosok yang akrab di dunia media dan olahraga.

Azrul bukan nama baru. Ia putra Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN yang dulu memimpin kerajaan Jawa Pos. Di tangannya, Persebaya tak cuma berbenah di lapangan, tapi juga memperbaiki manajemen yang sempat berantakan.

Sekitar 70% sahamnya dipegang perusahaan itu. Sisanya? Milik Koperasi Surya Abadi Persebaya semacam pengingat bahwa akar komunitas masih dipertahankan.

Keputusan Azrul mundur dari posisi CEO sempat bikin kaget. Bagi banyak suporter, dialah figur yang bawa klub kembali stabil setelah masa-masa kelam. Tapi ya, dalam bisnis sepak bola, pergantian pucuk pimpinan adalah hal yang biasa.

Jakarta dan Jaringan Konglomerasi

Kalau Surabaya punya Jawa Pos, Jakarta punya jaringan yang lebih besar lagi. Persija Jakarta sejak lama dikait-kaitkan dengan Bakrie Group, salah satu konglomerasi terbesar di negeri ini.

Awalnya, keterlibatan mereka tak terlalu mencolok. Struktur kepemilikan Persija dibangun melalui beberapa entitas, sehingga pengaruh Bakrie tak langsung terlihat. Tapi setelah Persija juara Liga 1 di 2018, hubungan itu makin terang benderang. Sejumlah figur yang berafiliasi dengan kelompok bisnis itu masuk ke dalam manajemen klub.

Dengan dukungan dana dan jaringan yang luas, Persija bisa menjaga stabilitas operasional. Mereka tetap jadi salah satu tim terbesar, dengan fondasi yang kokoh.

Bandung dan Sentuhan Global

Cerita di Bandung agak lain. Persib dikelola PT Persib Bandung Bermartabat, dengan Glenn Sugita sebagai pemegang saham utama sekaligus direktur. Sugita sudah berinvestasi sejak 2009 periode yang menandai transformasi besar menuju manajemen profesional.

Yang menarik, perjalanan Persib juga bersinggungan dengan investasi global. Northstar Group, perusahaan private equity asal Singapura yang didirikan Patrick Waluyo, punya jaringan relasi dengan beberapa figur di sekitar klub. Ini menunjukkan bagaimana sepak bola Indonesia mulai kemasukan arus modal internasional.

Ambisi mereka bahkan disebut-sebut melampaui liga domestik. Ada wacana untuk melantai di bursa saham. Kalau benar terjadi, itu akan jadi babak baru yang serius.

Editor: Redaksi MuriaNetwork


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar