Alat Pelacak Buatan China Ditemukan di Mobil Dinas PM Inggris, Empat Tahun Baru Terungkap

- Rabu, 10 Juni 2026 | 15:05 WIB
Alat Pelacak Buatan China Ditemukan di Mobil Dinas PM Inggris, Empat Tahun Baru Terungkap

Sebuah alat pelacak buatan China ditemukan di mobil dinas Perdana Menteri Inggris dalam kondisi tersegel, terungkap empat tahun setelah peristiwa itu terjadi. Perangkat tersebut diyakini terpasang pada bagian kendaraan yang diimpor langsung dari China, memicu kekhawatiran baru tentang aktivitas spionase asing di lingkaran pemerintahan tertinggi Inggris.

Temuan ini diungkapkan oleh Charles Parton, mantan diplomat dengan pengalaman hampir empat dekade, termasuk penugasan di China. Saat berbicara di hadapan Komite Bisnis dan Perdagangan parlemen Inggris pada Selasa (9/6) waktu setempat, Parton menyatakan bahwa mobil Perdana Menteri pada tahun 2022 secara aktif mengirimkan data ke China melalui modul seluler. Informasi ini kemudian dilaporkan oleh media setempat pada Rabu (10/6/2026).

Perangkat tersebut diduga memungkinkan kendaraan untuk berkomunikasi dengan pihak lain melalui jaringan seluler, menjadikannya celah potensial bagi kebocoran data sensitif. Parton, yang kini menjadi anggota lembaga think-tank Council on Geostrategy, menegaskan bahwa alat pelacak itu ditemukan pada bagian kendaraan yang disegel dan berasal dari China.

Penemuan ini terjadi dalam konteks operasi penyadapan yang pertama kali mencuat ke publik pada tahun 2023. Saat itu, kekhawatiran muncul bahwa Beijing secara agresif memata-matai para menteri dalam pemerintahan Inggris yang dikuasai Partai Konservatif. Namun, kini terungkap bahwa alat pelacak tersebut sebenarnya sudah ditemukan setahun sebelumnya, yakni pada 2022.

Sementara itu, belum diketahui secara pasti Perdana Menteri Inggris dari Partai Konservatif mana yang menjadi target pada tahun tersebut. Inggris mengalami pergantian kepemimpinan tiga kali dalam waktu singkat, mulai dari Boris Johnson, Liz Truss, hingga Rishi Sunak, sehingga identitas sasaran masih menjadi tanda tanya besar.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar