PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) punya rencana baru. Kali ini, emiten pertambangan itu ingin kembali membeli sahamnya sendiri dari pasar. Tujuannya jelas: membangun dan memulihkan kepercayaan para investor.
Dana yang disiapkan untuk aksi korporasi ini tak main-main, mencapai maksimal Rp4 triliun. Menariknya, semua dana itu bersumber dari kas internal perusahaan. Jadi, tidak ada utang atau skema pendanaan rumit lainnya.
Menurut keterbukaan informasi yang dirilis Rabu (11/3/2026), rencana ini akan dijalankan secara bertahap.
"Pembelian kembali saham akan dilakukan melalui BEI dan secara bertahap dalam jangka waktu paling lama 12 bulan," jelas manajemen Alamtri.
Namun begitu, rencana ini masih perlu lampu hijau dari para pemegang saham. Perseroan telah menjadwalkan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 17 April 2026 mendatang. Persetujuan untuk program buyback ini akan menjadi salah satu agenda utamanya.
Sebenarnya, ini bukan kali pertama ADRO melakukan hal serupa. Mereka sudah beberapa kali terjun ke pasar untuk membeli kembali sahamnya. Yang terbaru, periode 3 Juni 2025 hingga 28 Februari 2026 lalu, perseroan menyerap cukup banyak: 556,2 juta saham, atau sekitar 1,89% dari total.
Kalau ditotal dengan aksi buyback sebelumnya di Mei-Juni 2025 yang menyerap 33 juta saham, maka saham treasuri ADRO kini mencapai 598,19 juta lembar. Angka itu setara dengan 2% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan.
Lalu, apa alasan di balik langkah ini? Manajemen punya beberapa penjelasan. Di satu sisi, mereka ingin meningkatkan likuiditas perdagangan saham ADRO di pasar. Dengan begitu, harga saham diharapkan bisa lebih mencerminkan kondisi fundamental perusahaan yang sebenarnya.
Di sisi lain, aksi buyback ini juga dipandang sebagai cara untuk memberikan pengembalian yang baik bagi pemegang saham lama. Pada akhirnya, semua langkah itu bermuara pada satu titik: meningkatkan kepercayaan investor terhadap masa depan perusahaan.
Nah, tinggal tunggu hasil RUPS nanti. Apakah para pemegang saham akan menyetujui rencana senilai triliunan rupiah ini?
Artikel Terkait
Pekan Terakhir April 2026: Tiga Faktor Global Picu Ketegangan Pasar Minyak dan Emas
Bapanas Izinkan Penggunaan Kemasan Beras SPHP Tahun 2023–2025 Akibat Kelangkaan Bahan Baku Plastik
Pendapatan Berulang Dominan, Pondok Indah Group Diproyeksi Raup Laba Bersih Rp1,2 Triliun pada 2026
Pefindo Turunkan Peringkat Adhi Commuter Properti dan Obligasinya Imbas Penundaan Kupon