"Penarikannya sebesar Rp23 triliun, dan dana itu sudah kembali ke BI lagi," tambahnya.
Di sisi lain, meski ada penarikan dana, performa BNI dalam menyalurkan kredit justru terbilang impresif. Dari dana tahap pertama sebesar Rp55 triliun, bank ini berhasil melakukan leverage yang signifikan. Alhasil, total kredit yang mereka dorong ke sektor-sektor produktif jauh melampaui angka penempatan awal.
"Kami telah menyalurkan total Rp88 triliun. Itu berasal dari Rp55 triliun dana SAL yang ditempatkan pemerintah di BNI," ungkapnya dengan nada percaya diri.
Memasuki tahun 2026, komitmen BNI adalah menjaga kesehatan profil risiko dan likuiditas. Putrama menegaskan, rasio pinjaman terhadap simpanan atau LDR akan dijaga pada level yang konservatif. Langkah ini dianggap penting untuk menyisakan ruang gerak yang cukup. Tujuannya, agar bank siap mendukung agenda pembangunan pemerintah di masa mendatang.
"Ke depan, kami masih harus mempertahankan LDR di bawah 90 persen. Di situlah kami mempersiapkan dukungan untuk program-program pemerintah nanti," katanya.
Strategi menjaga LDR di bawah ambang 90 persen itu bukan tanpa alasan. Langkah ini dipandang krusial untuk mengantisipasi lonjakan permintaan pembiayaan. Apalagi, sejumlah proyek strategis nasional pemerintah diprediksi akan membutuhkan dukungan perbankan yang kuat sepanjang 2026.
Artikel Terkait
28 Perusahaan Terbebani Denda Triliunan Rupiah Atas Pelanggaran Lingkungan Berat
Thomas Djiwandono Hadapi Uji Kelayakan, Kursi Deputi Gubernur BI Diperebutkan Tiga Nama
KLH Tuntut Enam Perusahaan Rp4,9 Triliun, Dituding Perparah Bencana di Sumatra
Bukan Laba, Ini Alasan di Balik Margin 7 Persen BULOG