Presiden Prabowo Peringatkan Dampak Krisis Global, Harga Minyak Tembus US$100 per Barel

- Rabu, 11 Maret 2026 | 19:45 WIB
Presiden Prabowo Peringatkan Dampak Krisis Global, Harga Minyak Tembus US$100 per Barel

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Itulah kesan yang muncul menyusul peringatan keras Presiden Prabowo Subianto pada Senin, 9 Maret 2026. Di tengah peresmian ratusan jembatan, pidatonya justru mengangkat ancaman yang jauh lebih besar: badai krisis ekonomi global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.

"Saudara-saudara, seluruh dunia sedang mengalami goncangan, seluruh dunia," tegas Prabowo secara daring.

"Akibat perang di Timur Tengah kita terus terang saja harus siap menghadapi kesulitan."

Peringatannya bukan tanpa alasan. Konflik terbuka antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel telah menciptakan guncangan hebat. Dampak paling nyata? Harga minyak mentah dunia yang melonjak, bahkan menembus level psikologis 100 dolar AS per barel. Pemicu utamanya adalah gangguan di Selat Hormuz, jalur nadi logistik yang tersendat. Lalu, bagaimana nasib kantong masyarakat Indonesia?

Goncangan Harga Hingga ke Dapur

Menurut Bhima Yudhistira dari CELIOS, efeknya bakal terasa cepat. Bukan cuma di bursa saham, tapi langsung ke dompet warga.

"Hanya hitungan hari, efek perang Iran terasa di kantong kelas menengah dan bawah," katanya.

Ia memprediksi tekanan inflasi akan menghantam berbagai sektor, mulai dari BBM, tarif listrik, harga pangan, hingga bunga cicilan rumah. Situasinya sudah darurat, dan pemerintah didesak segera bertindak.

Ekonom INDEF, Hakam Naja, punya pandangan serius. Ia menyebut lonjakan harga minyak ke level 92 dolar AS sebagai yang tertinggi sejak 2020. Gangguan di Selat Hormuz, yang dilalui 20% pasokan minyak global, ibarat "kiamat kecil" bagi energi dunia. Imbasnya, postur APBN 2026 bisa kacau balau.

Asumsi makro pemerintah mematok harga minyak di 70 dolar AS. Kenyataannya kini mendekati 100 dolar. Hakam memaparkan, kenaikan 1 dolar saja bisa menambah defisit sekitar Rp 6,8 triliun. Jika harga bertahan tinggi, defisit APBN terhadap PDB berisiko melampaui batas aman 3%.

Rupiah Tertekan, Beban Subsidi Membesar

Masalahnya tak berhenti di minyak. Pelemahan rupiah jadi ancaman lain. Yusuf Rendy Manilet dari CORE Indonesia menjelaskan, konflik geopolitik membuat investor ramai-ramai lari ke aset aman seperti dolar AS. Alhasil, rupiah terkapar.

Dampaknya berlipat ganda. Negara harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk subsidi energi, sekaligus membayar kewajiban dalam valuta asing. Menurut hitungan Yusuf, setiap pelemahan rupiah Rp100 per dolar AS bisa menambah beban belanja negara sekitar Rp 6,1 triliun. Jika rupiah melemah drastis, tekanan terhadap defisit APBN bisa membengkak hingga belasan triliun rupiah.

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar