Banda Aceh Sabtu sore, suasana di Desa Mata Ie, Aceh Jaya, sedikit berbeda. Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI, Fahri Hamzah, bersama anggota Komisi IV DPR RI, Rohkmin Dahuri, turun langsung ke lokasi. Mereka meninjau rencana pembangunan kampung nelayan merah putih. Cuaca sore itu cukup bersahabat.
Begitu melihat lokasi, Fahri Hamzah terus terang tak bisa menyembunyikan kesannya. Menurut dia, tempat ini punya potensi besar. Pantainya bagus, pemandangannya oke. “Wilayah ini cukup mewah,” ujarnya santai. Ia bahkan membayangkan, ke depannya kawasan ini bukan cuma jadi tempat tinggal nelayan, tapi juga bisa di-branding sebagai objek wisata.
“Nanti bisa kita gabung sekaligus,” kata Fahri. “Artinya desa, kota wisata, dan nelayan juga kota kuliner. Yang kedua, soal perumahan itu relatif gampang karena itu dalam kewenangan kami. Insya Allah nanti kita hitung, apalagi kalau angka yang dihitung sebenarnya itu tidak terlalu besar.”
Namun begitu, ia sadar pembangunan ini nggak bisa jalan sendiri. Butuh kolaborasi. Akses jalan, misalnya, pasti harus melibatkan Kementerian PU. “Presiden merancang sekitar 1.200 yang sudah ada anggarannya,” jelas Fahri. “Saya berharap Gampong Mata Ie bisa menjadi salah satu yang tercepat, karena lahannya sudah tersedia.”
Fahri berjanji akan terus mendorong realisasi proyek ini. Ia bicara dengan nada tegas, tapi tetap bersahabat.
“Saya kira mari kita bekerja, Pak Bupati dengan kepemimpinan di sini, kami di pusat, Insya Allah siap membantu. Di eksekutif, kami siap membantu, di legislatif siap membantu. Pokoknya mimpi dari masyarakat Aceh adalah mimpi dari kita semua, dan kita wujudkan.”
Di sisi lain, Rohkmin Dahuri punya pandangan sendiri. Ia menilai kunjungan Wamen PKP ini bukan sekadar formalitas. “Ini bentuk keseriusan pemerintah,” katanya. Ia lalu menyinggung pernyataan spontan Fahri soal anggaran Rp18 miliar yang dianggap kecil untuk pembangunan perumahan. “Saya kira itulah asbabun nuzul dan asbabul wurud-nya. Pak Wamen bisa ke sini dan kami bisa ke sini semata-mata hanya untuk membantu para nelayan.”
Soal angka, begini ceritanya. Pembangunan kampung nelayan ini direncanakan di atas lahan seluas 9,9 hektare. Total anggaran yang dibutuhkan? Sekitar Rp49 miliar lebih. Bukan angka yang sedikit, memang.
Sementara itu, Bupati Aceh Jaya, Safwandi, nggak bisa menyembunyikan rasa terima kasihnya. Ia secara khusus berterima kasih kepada Prof Rohkmin Dahuri yang dinilai gigih memperjuangkan proyek ini. “Sehingga sahabatnya, Wamen Fahri Hamzah, bisa hadir langsung ke Aceh Jaya,” ujarnya.
Safwandi berharap semua ini bukan cuma wacana. “Kita berharap kegiatan ini dapat terwujudkan, apalagi ini menjadi mimpi besar bagi nelayan di Gampong Mata Ie ini dan juga khususnya masyarakat Aceh Jaya,” tutupnya.
Artikel Terkait
Partisipasi Pemilu Dewan Kota Palestin Menurun Drastis Akibat Perang di Gaza
Kemenhaj Peringatkan Penipuan Haji Tanpa Antre, 13 WNI Dicegah Berangkat
Pendidikan Jarak Jauh untuk Jenjang Menengah Resmi Diluncurkan, Targetkan Penurunan Angka Anak Tidak Sekolah
Gibran Sebut Jusuf Kalla Idola, Pengamat: Sikap Dewasanya Redam Ketegangan Politik