Pendidikan Jarak Jauh untuk Jenjang Menengah Resmi Diluncurkan, Targetkan Penurunan Angka Anak Tidak Sekolah

- Minggu, 26 April 2026 | 03:45 WIB
Pendidikan Jarak Jauh untuk Jenjang Menengah Resmi Diluncurkan, Targetkan Penurunan Angka Anak Tidak Sekolah

Jakarta Kabar baik datang dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Peluncuran program pendidikan jarak jauh (PJJ) untuk jenjang menengah disebut-sebut bakal jadi angin segar. Targetnya? Menekan angka anak tidak sekolah (ATS) di berbagai pelosok Indonesia.

Di Malaysia, tepatnya di Sabah, program ini sudah mulai dirasakan manfaatnya. Sukma Sabdani, Kepala Tata Usaha Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), lewat pernyataan tertulisnya di Jakarta, Sabtu lalu, bilang program PJJ ini benar-benar memberi solusi nyata. Ratusan murid Indonesia di sana yang sebelumnya terkendala, kini punya harapan lagi untuk sekolah.

“Dari sekitar 1.700 lulusan SMP tiap tahun, program PJJ ini diperkirakan bisa menampung lebih dari separuhnya,” ujar Sukma. Mereka yang sebelumnya nggak tertampung di pendidikan formal reguler, akhirnya punya tempat. Ia menambahkan, PJJ jadi solusi efektif, terutama buat anak-anak yang tinggal di wilayah terpencil. Termasuk mereka yang berada di kawasan perkebunan, yang jaraknya bisa ratusan kilometer dari pusat kota atau dari SIKK sendiri.

Menurut Sukma, PJJ juga fleksibel. Murid bisa tetap belajar sambil membantu orang tua di kebun atau di tempat lain. Nggak harus meninggalkan aktivitas sehari-hari. Ke depannya, SIKK berencana memperluas cakupan program ini. Termasuk menjangkau mereka yang sudah bekerja, tapi belum tuntas pendidikannya.

“Semoga program ini terus berlanjut dan dapat dukungan berkelanjutan dari pemerintah,” harapnya.

Di sisi lain, persiapan juga dilakukan di dalam negeri. SMAN 1 Ternate, Maluku Utara, ditunjuk sebagai sekolah induk. Kepala sekolahnya, Sabaria Umahuk, menyebut pihaknya sudah melakukan berbagai persiapan. Mereka nggak sendiri. Ada tiga sekolah mitra yang bakal kolaborasi: SMAN 1 Halmahera Utara, SMAN 1 Pulau Morotai, dan SMAN 2 Halmahera Timur.

Kolaborasi ini, kata Sabaria, tujuannya jelas: memberi layanan pendidikan yang lebih luas dan merata. Khususnya buat anak-anak yang selama ini susah mengakses pendidikan formal.

“Ini peluang besar. Kami optimis, dengan dukungan pemerintah daerah, bisa memberikan layanan maksimal. Target kami, menekan angka ATS dan mewujudkan pendidikan bermutu,” ucapnya.

Nah, dari Jawa Barat, ada juga cerita serupa. Kicky Eceu Wardani, Kepala SMAN 2 Padalarang, menyatakan kesiapan penuh. Sekolahnya, katanya, udah punya pengalaman lewat program SMA Terbuka. Pengalaman itu, menurut dia, jadi modal penting buat ngelola PJJ.

Koordinasi dengan dinas pendidikan dan sekolah-sekolah lain di Jawa Barat juga sudah dilakukan. Semua demi memperkuat kesiapan implementasi PJJ.

“Program ini sangat membantu. Terutama buat murid yang nggak bisa hadir langsung ke sekolah. Fokus kami saat ini juga diarahkan ke anak-anak yang sempat putus sekolah, biar mereka bisa kembali melanjutkan,” jelas Kicky. Ia berharap, implementasi PJJ berjalan mulus dan membawa harapan baru buat para ATS di Jawa Barat.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar