Israel dan Lebanon akhirnya sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata selama tiga minggu. Di tengah masa tenang itu, Amerika Serikat malah muncul dengan janji katanya mau bantu Lebanon memberantas Hizbullah. Tapi ya, di situlah letak kerapuhannya. Kesepakatan ini, menurut sejumlah pengamat, bisa pecah kapan saja.
Hikmahanto Juwana, guru besar hukum internasional dari Universitas Indonesia, angkat bicara. Ia melihat ada celah besar dalam perjanjian itu.
“Menurut saya gencatan senjata Lebanon dan Israel bisa rapuh bila Israel dan AS mulai menyerang Hizbullah,” katanya kepada wartawan, Sabtu (25/4/2026).
Nah, yang menarik adalah bagaimana ia memetakan faktor penentu di sini. Hikmahanto bilang, nasib Hizbullah apakah bakal musnah atau justru bertahan sangat tergantung pada dua kekuatan besar: Amerika Serikat dan Iran.
“Ini bergantung apakah AS akan menurunkan pasukan darat atau tidak, lalu ini juga bergantung apakah Iran akan membantu Hizbullah atau tidak?” ujarnya.
Ia lalu menjelaskan lebih lanjut. Kalau AS benar-benar mengerahkan pasukan darat dan Iran memilih diam, maka Hizbullah bisa ditumpas. Tapi kalau Iran ikut turun tangan? Nah, ceritanya jadi lain. Upaya AS bakal mandek, tidak efektif sama sekali.
Di sisi lain, pertanyaannya sekarang: apakah AS benar-benar serius menurunkan pasukan darat? Atau ini cuma gertak sambal? Entahlah. Yang jelas, gencatan senjata ini setidaknya di atas kertas masih bertahan. Tapi ya, kita lihat saja bagaimana kelanjutannya.
Artikel Terkait
Negosiasi AS-Iran Mandek, Iran Manfaatkan Selat Hormuz sebagai Alat Tekan Strategis
Sinner Dukung Alcaraz yang Mundur dari Roma dan Roland Garros karena Cedera
Regenerasi Petani Jadi Kunci Swasembada Pangan, Jateng Miliki 630 Ribu Petani Milenial
Bus TransJakarta Tabrak Separator di Rasuna Said, Tak Ada Korban Jiwa