Perempuan sebagai Pusat Cerita, Enam Film Indonesia Angkat Realitas dan Perjuangan Hidup

- Sabtu, 25 April 2026 | 10:30 WIB
Perempuan sebagai Pusat Cerita, Enam Film Indonesia Angkat Realitas dan Perjuangan Hidup

Jakarta Belakangan ini, film Indonesia makin sering menempatkan perempuan sebagai pusat cerita. Bukan cuma sekadar tempelan atau pemanis adegan. Karakter-karakternya dikasih cerita yang lebih membumi, dekat dengan realitas sehari-hari. Mulai dari tekanan tradisi yang mengikat, masalah ekonomi yang pelik, sampai konflik keluarga dan dilema soal pilihan hidup.

Lewat kisah-kisah yang diangkat, perjuangan perempuan ini nggak selalu soal hal-hal besar. Kadang, cuma soal bertahan. Atau mengambil keputusan sulit di tengah situasi yang nggak ideal. Juga soal memperjuangkan sesuatu yang mereka anggap penting dalam hidup, meski harus berhadapan dengan banyak rintangan.

Dari situ, film jadi lebih dari sekadar hiburan. Ia bisa jadi semacam cermin. Media buat kita paham gimana caranya perempuan menghadapi tantangan yang kadang sepele, kadang berat dalam kehidupan sehari-hari.

Nah, berikut beberapa film Indonesia yang mengangkat kisah perempuan hebat dan tangguh. Cekidot.

1. Kartini (2017)

Film drama biografi garapan Hanung Bramantyo ini diproduksi oleh Legacy Pictures. Rilis pada 19 April 2017, dibintangi Dian Sastrowardoyo sebagai Kartini. Ceritanya mengangkat sosok pahlawan perempuan Indonesia yang dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita. Latarnya di masyarakat Jawa awal abad ke-20, yang saat itu masih sangat membatasi peran perempuan.

Film ini menggambarkan perjuangan Raden Ajeng Kartini yang berani melawan tradisi. Tradisi yang mengekang, terutama dalam soal pendidikan dan kebebasan memilih jalan hidup. Inspirasi Kartini datang dari pengalaman keluarganya sendiri nasib ibunya yang terpinggirkan, misalnya. Bersama saudara-saudarinya, ia berusaha membuka jalan bagi perempuan untuk mengenyam pendidikan. Kisahnya jadi simbol keberanian perempuan melawan ketidakadilan sosial.

2. Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Film ini disutradarai Mouly Surya, rilis pada 16 November 2017. Marsha Timothy jadi pemeran utamanya. Gaya filmnya neo-western, dengan latar Sumba yang kering dan sunyi. Karya ini sempat dapat perhatian internasional dan didistribusikan ke berbagai negara. Menariknya, ia menyuguhkan sudut pandang perempuan dalam genre yang jarang diangkat di Indonesia.

Ceritanya berpusat pada Marlina, seorang janda yang harus berhadapan dengan sekelompok perampok. Mereka mengancam hidup dan kehormatannya. Setelah insiden itu, ia melakukan perlawanan. Lalu memulai perjalanan mencari keadilan. Di sepanjang jalan, Marlina menunjukkan keteguhan dan keberanian sebagai perempuan yang tidak mau tunduk pada kekerasan. Ia juga menghadapi traumanya dengan caranya sendiri.

3. Home Sweet Loan (2024)

Film drama keluarga ini disutradarai Sabrina Rochelle Kalangie. Produksi bareng Visinema Pictures dan Legacy Pictures. Tayang di bioskop 26 September 2024, lalu mampir ke Netflix pada 30 Januari 2025. Diadaptasi dari novel Almira Bastari. Film ini menyoroti realita kehidupan perempuan pekerja masa kini.

Tokohnya, Kaluna, adalah perempuan pekerja yang berjuang punya rumah sendiri. Tekanan ekonomi dan tanggung jawab sebagai generasi sandwich menghimpitnya. Ia harus membagi penghasilan untuk keluarga, sambil tetap mengejar impian pribadi. Perjuangan Kaluna mencerminkan realitas banyak perempuan modern. Mereka dituntut kuat secara finansial dan emosional dalam menghadapi hidup.

4. Jangan Panggil Mama Kafir (2025)

Film ini disutradarai Dyan Sunu Prastowo, rilis 16 Oktober 2025. Produksi Maxima Pictures, dibintangi Michelle Ziudith dan Giorgino Abraham. Tema yang diangkat: keluarga, keyakinan, dan toleransi dari sudut pandang perempuan.

Kisahnya mengikuti Maria, seorang ibu tunggal setelah suaminya meninggal. Meski berbeda keyakinan dengan suaminya, ia berusaha membesarkan anak sesuai pesan almarhum: sang buah hati harus diajarkan keyakinan ayahnya. Di tengah tekanan sosial dan konflik keluarga, Maria menunjukkan ketegaran. Pengorbanan seorang perempuan yang mempertahankan kasih sayang, nilai, dan tanggung jawabnya.

5. Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa (2026)

Film horor garapan Azhar Kinoi Lubis ini diproduksi Soraya Intercine Films. Rilis 18 Maret 2026, dibintangi Luna Maya dan Reza Rahadian. Perpaduan horor dengan drama emosional yang cukup kuat.

Ceritanya berpusat pada Suzzanna yang diliputi dendam. Keluarganya jadi korban kejahatan. Dalam usahanya membalas dendam, ia menghadapi konflik batin yang dalam. Apalagi saat dihadapkan pada pilihan antara kebencian dan cinta. Perjalanan ini menunjukkan sisi kompleks perempuan dalam menghadapi luka, emosi, dan pilihan hidup yang nggak gampang.

6. Senin Harga Naik (2026)

Film ini disutradarai Dinna Jasanti, produksi Starvision. Rilis 18 Maret 2026, dibintangi Nadya Arina dan Meriam Bellina. Tema yang diangkat seputar keluarga dan ambisi dalam kehidupan perempuan modern.

Kisahnya mengikuti Mutia, perempuan ambisius yang sukses dalam karier. Namun, konflik muncul ketika usaha milik keluarganya terancam karena tuntutan pekerjaannya. Ia dipaksa memilih: pertahankan karier atau jaga hubungan keluarga? Perjuangan Mutia menggambarkan dilema perempuan dalam menentukan prioritas antara ambisi pribadi dan nilai keluarga.

(Maiza Jasmine A.R)

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar