Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memang sudah digadang-gadang sebagai salah satu program unggulan pemerintah. Tapi, menurut M. Rizal Taufikurrahman dari Indef, ada satu hal krusial yang tak boleh dilupakan: tata kelola. Tanpa itu, program ini bisa jadi malah menimbulkan masalah baru di kemudian hari.
Rizal menekankan, MBG jangan cuma dipandang sebagai bantuan sosial sesaat. Memang, bantuan makanan itu penting. Namun begitu, jika tidak dikelola dengan benar, risikonya besar. Penerima manfaat mungkin hanya merasakan keuntungan jangka pendek, tanpa ada dampak yang berkelanjutan bagi hidup mereka.
"Tata kelola menjadi penting," tegas Rizal dalam sebuah diskusi, Kamis lalu.
"Jangan sampai program MBG ini justru menjadi beban fiskal antargenerasi tanpa ada imbal hasil konteks ekonomi jangka panjang secara memadai," imbuhnya.
Nah, poinnya di sini. Menurut ekonom ini, pemerintah harus punya visi lebih jauh. Program ini harus bisa membuka peluang. Artinya, selain mendapat makanan bergizi, penerima yang kebanyakan adalah anak-anak dan remaja perlu diberi ruang untuk meningkatkan produktivitas mereka di masa depan.
Artikel Terkait
KAI Ingatkan Batas Ukuran dan Tarif Kelebihan Bagasi Kereta Jelang Mudik
Kemensos: 90% Bansos Reguler Tersalur, Rp632 Miliar Dikucurkan untuk Korban Bencana Sumatera
BRI Salurkan KUR Rp178,8 Triliun dan KPR Subsidi Rp16,6 Triliun Sepanjang 2025
Pemerintah Perpanjang Tenor Dana SAL hingga 2026, BRI Sambut Positif