Lumajang – Sebuah kejadian yang hampir berakhir tragis terjadi di aliran Sungai Regoyo, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro. Vita, seorang siswi kelas 4 SD, bersama ayahnya, Anton, terseret banjir lahar dingin dari Gunung Semeru. Mereka sedang dalam perjalanan ke sekolah menggunakan sepeda motor.
Menurut keterangan warga, musibah itu berawal dari niatan menyeberang meski air sungai sudah tampak deras. Motor yang mereka tumpangi oleng dan tak terkendali, lalu terseret arus. Dua sosok itu pun ikut hanyut, terbawa sekitar lima meter dari titik awal.
Suara teriakan minta tolong sempat terdengar. Itu berasal dari Vita.
Melihat kejadian itu, sejumlah warga yang ada di sekitar langsung bergerak. Sungai dalam, arusnya kuat. Tapi dengan usaha bersama, Anton dan putri kecilnya berhasil ditarik ke tepian. Mereka ditemukan dalam keadaan basah kuyup, namun syukurlah, selamat. Sepeda motornya sendiri hanyut terbawa arus lahar.
Abdul Rohim, salah satu penolong, menggambarkan mencekamnya saat itu.
"Mereka tadi terus saja padahal airnya sudah mulai deras. Langsung menyeberang, dan anaknya sempat terseret sekitar lima meter lebih," ujarnya.
Lantas, mengapa warga masih nekat melintasi sungai yang berbahaya itu? Rupanya, Sungai Regoyo kini jadi jalur wajib setelah Jembatan Limpas tertimbun material lahar Semeru. Setiap hari, ratusan orang dari Dusun Sumber Langsep terpaksa memakai jalur ini untuk sekolah, kerja, atau keperluan lain. Padahal, kondisi airnya bisa naik secara tiba-tiba kapan saja.
Kejadian ini jadi pengingat betapa rapuhnya akses hidup warga di lereng Semeru. Mereka seolah hidup berdampingan dengan ancaman, sambil berharap ada solusi yang lebih aman.
Artikel Terkait
26 Pejabat dari Tiga Cabang Kekuasaan Diduga Terlibat Korupsi Program Makan Bergizi Gratis
BMKG: Sebagian Besar Wilayah Indonesia Berawan pada Rabu, 10 Juni 2026
Bocah 9 Tahun Tewas Diserang Anjing Pemburu di Bogor, Pemilik Anjing Jadi Tersangka
BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,50 Persen, Respons Tekanan Rupiah Akibat Ketidakpastian Global