Abdul Rohim, salah satu penolong, menggambarkan mencekamnya saat itu.
"Mereka tadi terus saja padahal airnya sudah mulai deras. Langsung menyeberang, dan anaknya sempat terseret sekitar lima meter lebih," ujarnya.
Lantas, mengapa warga masih nekat melintasi sungai yang berbahaya itu? Rupanya, Sungai Regoyo kini jadi jalur wajib setelah Jembatan Limpas tertimbun material lahar Semeru. Setiap hari, ratusan orang dari Dusun Sumber Langsep terpaksa memakai jalur ini untuk sekolah, kerja, atau keperluan lain. Padahal, kondisi airnya bisa naik secara tiba-tiba kapan saja.
Kejadian ini jadi pengingat betapa rapuhnya akses hidup warga di lereng Semeru. Mereka seolah hidup berdampingan dengan ancaman, sambil berharap ada solusi yang lebih aman.
Artikel Terkait
LPDP Tegaskan Larangan Keras Peserta PPDS Keluar Daerah Penempatan
Kapolri Listyo Sigit Bagikan Takjil Langsung ke Pengendara di Depan Mabes Polri
Warga AS Terlibat Kasus Pembunuhan dalam Koper di Bali Akhirnya Dideportasi
Kemensos Tegaskan Prosedur Adopsi Anak Tidak Rumit, Imbau Hindari Jalur Ilegal