Anggota Kongres Demokrat Desak Pemakzulan Trump Atas Ancaman Militer ke Iran

- Sabtu, 11 April 2026 | 03:15 WIB
Anggota Kongres Demokrat Desak Pemakzulan Trump Atas Ancaman Militer ke Iran

Suasana di Washington belakangan ini benar-benar panas. Bukan cuma soal hubungan dengan Iran yang makin runyam, tapi juga gejolak politik dalam negeri yang memuncak. Anggota Kongres dari Partai Demokrat kini bersuara lantang, menuntut Presiden Donald Trump dicopot dari jabatannya. Pemicunya? Ancaman militer Trump yang dinilai sudah melampaui batas dan melanggar hukum internasional.

Puluhan politisi Demokrat bergerak. Mereka geram dengan pernyataan Trump yang disebut-sebut mengancam untuk "menghapuskan seluruh peradaban Iran." Retorika seperti itu, bagi mereka, bukan main-main. Itu terdengar seperti ancaman genosida terhadap sebuah bangsa berpenduduk hampir 91 juta orang. Dan itu, tentu saja, tak bisa dibiarkan.

Menurut mereka, ancaman semacam itu tak punya tempat, bahkan sebagai sekadar gertakan di meja perundingan.

"Kita tidak boleh memaklumi apa yang dikatakan presiden sebagai taktik negosiasi. Mengancam genosida bukanlah taktik negosiasi,"

tegas Sara Jacobs, salah satu anggota kongres dari Partai Demokrat.

Dia menambahkan, presiden harus bertanggung jawab penuh atas kata-katanya. "Sangat penting bagi kita untuk meminta pertanggungjawaban presiden ini. Mengancam genosida itu melanggar hukum internasional, bahkan hukum federal kita sendiri," ujarnya.

Di sisi lain, meski gencatan senjata dua minggu sudah disepakati, tekanan dari publik tak kunjung reda. Kantor-kantor di Capitol Hill dikepung ratusan panggilan telepon dari warga yang cemas. Mereka resah dengan retorika sang presiden yang terasa makin apokaliptik.

Maka, wacana pemakzulan atau penggunaan Amandemen ke-25 pun mengemuka. Para anggota Kongres itu mendesak agar langkah serius diambil, untuk menyatakan Trump tidak lagi layak memimpin. Situasinya memang rumit, dan ketegangan ini sepertinya belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar