JAKARTA – Situasinya sempat benar-benar genting. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan, cadangan LPG nasional pernah anjlok hingga hanya cukup untuk hitungan hari saja. Fase kritis itu terjadi tepat sebelum awal April, imbas dari gejolak pasokan energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Namun begitu, suasana sekarang sudah jauh berbeda. "Urusan LPG kita sudah keluar dari zona yang sangat mengkhawatirkan," ujar Bahlil dengan nada lega.
Ia menyampaikan hal itu di acara peluncuran buku Satya Widya Yudha, Jumat (10/4), di kawasan Senayan. Bahlil menegaskan, stok energi nasional mulai dari solar, bensin, hingga LPG sudah dalam kondisi aman. "Kita sudah bisa tidur nyenyak," katanya.
Memang, perubahannya cukup signifikan. Kalau dulu cadangan cuma bertahan beberapa hari, kini sudah merangkak naik mendekati angka normal, yaitu sekitar sepuluh hari. Peningkatan ini tak lepas dari peran para kontraktor migas atau KKKS. Mereka mengalihkan pasokan yang seharusnya diekspor untuk memprioritaskan kebutuhan di dalam negeri.
"Ibarat orang sakit, kita keluar dari ruang ICU itu tanggal 4–5 April," Bahlil memberi gambaran. "Tidak pernah terjadi cadangan kita cuma beberapa hari. Tapi mulai dua hari kemarin saya sudah bisa tidur nyenyak."
Ia pun menyampaikan apresiasi. KKKS diakuinya telah mengalokasikan ulang kuota ekspor mereka, sekitar 30 persen, untuk mengisi cadangan domestik. Langkah itulah yang akhirnya menenangkan situasi. "Mulai dua hari kemarin, LPG kita cadangannya sudah di atas 10 hari, sudah mendekati normal. Jadi tidak perlu keraguan lagi," tambahnya.
Di sisi lain, akar masalahnya sebenarnya masih ada. Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam dari Ditjen Migas Kementerian ESDM sebelumnya telah membeberkan soal ini. Kebijakan pengalihan ekspor tadi memang sebuah ikhtiar untuk mengurangi ketergantungan impor LPG, yang selama ini masih sangat tinggi.
Produksi dalam negeri, sayangnya, belum sanggup memenuhi seluruh kebutuhan. Alhasil, pasokan masih banyak mengandalkan impor. Tantangannya makin berat dengan situasi geopolitik global yang tidak stabil, termasuk gangguan potensial di jalur distribusi vital seperti Selat Hormuz.
"LPG yang selama ini digunakan oleh industri kami upayakan dialihkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama LPG 3 kg yang sangat dibutuhkan," jelas Rizwi dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR, Rabu (8/4).
Jadi, meski napas lega sudah bisa dihembuskan, kewaspadaan jelas tak boleh kendur. Pemerintah sepertinya menyadari, jalan menuju kemandirian energi masih panjang dan penuh tikungan.
Artikel Terkait
BEI Ajak Emiten Berdialog demi Kembalikan Saham ke Indeks Global
MNC Asset Management Rayakan 26 Tahun, Tegaskan Komitmen Bertahan di Industri Pasar Modal
Pemerintah Jadwalkan Pencairan Gaji ke-13 PNS dan Pensiunan pada Juni-Juli untuk Biaya Pendidikan
Primaya Hospital Group Catat Pertumbuhan Pendapatan 27 Persen di Kuartal I 2026