Puncak BKUPI 2026: Ulama Perempuan Luncurkan Atlas Sejarah dan Deklarasi Indonesia Tanpa Kekerasan

- Senin, 25 Mei 2026 | 00:30 WIB
Puncak BKUPI 2026: Ulama Perempuan Luncurkan Atlas Sejarah dan Deklarasi Indonesia Tanpa Kekerasan

Acara puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BKUPI) berlangsung di Masjid Cut Nyak Dien, Jakarta, pada Minggu (24/5), dengan dihadiri sekitar seribu peserta dari dalam negeri hingga jaringan internasional. Kegiatan ini mengusung misi besar untuk mewujudkan Indonesia tanpa kekerasan, baik yang diikuti secara daring maupun luring.

Ketua Panitia BKUPI, Nyai Pera Sopariyanti, menjelaskan bahwa perhelatan ini dibangun secara kolektif oleh berbagai simpul masyarakat sipil dan jaringan keulamaan perempuan. Menurutnya, kegiatan tersebut bertujuan menghidupkan kembali ingatan kolektif terhadap kiprah ulama perempuan dalam sejarah Indonesia.

"Gerakan ini dirawat oleh seluruh simpul oleh lima lembaga penyangga," ujar Nyai Pera dalam sambutannya.

Rangkaian BKUPI berlangsung sepanjang Mei 2026. Selama satu bulan, tercatat 24 kegiatan yang melibatkan jaringan ulama perempuan, pesantren, perguruan tinggi, komunitas, hingga media partner. Salah satu agenda utamanya adalah pembacaan 31 manaqib tokoh ulama perempuan Indonesia yang dilaksanakan selama 20 hari berturut-turut. Selain itu, jaringan ulama perempuan Indonesia juga menggelar gerakan khataman Al-Qur’an selama lima hari menjelang acara puncak.

Pada momen puncak, Majelis Musyawarah Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) melalui perwakilannya, Nyai Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah, meluncurkan dokumentasi dan pemetaan jejak perjuangan ulama wanita. Dokumentasi tersebut diberi nama Atlas Ulama Perempuan Indonesia dan Buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia. Nyai Iklilah menegaskan bahwa dokumentasi ini menjadi sumber referensi sekaligus pengakuan sejarah atas kontribusi ulama perempuan.

"Atlas KUPI bukan sekadar daftar nama," kata Nyai Iklilah.

Sementara itu, acara puncak juga diwarnai dengan Pidato Kebangkitan Ulama Perempuan yang disampaikan oleh Ketua Majelis Musyawarah KUPI, Nyai Badriyah Fayumi. Dalam pidatonya, ia menyoroti maraknya kekerasan domestik, kekerasan seksual di lembaga pendidikan, hingga kekerasan struktural yang terjadi di tanah air.

"Ulama perempuan Indonesia mengutuk keras semua bentuk kekerasan fisik dan seksual yang terjadi di ranah keluarga, lembaga pendidikan, ruang publik maupun kekerasan negara atau oleh aparat negara," ungkap Nyai Badriyah.

Sebagai bentuk komitmen nyata, acara ini ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap kolaborasi lembaga penyangga bertajuk “Risalah Cut Nyak Dien Menteng”. Deklarasi tersebut menegaskan komitmen bersama untuk mewujudkan Indonesia tanpa kekerasan, dari ruang domestik hingga negara. Di sisi lain, disosialisasikan pula program Beasiswa Kader Ulama Perempuan untuk memperkuat kaderisasi di berbagai wilayah.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar