Hercules Bantah Tudingan Intimidasi, Sebut Istri Jadi Korban Teror WhatsApp Ahmad Bahar

- Senin, 25 Mei 2026 | 01:45 WIB
Hercules Bantah Tudingan Intimidasi, Sebut Istri Jadi Korban Teror WhatsApp Ahmad Bahar

Ketua Umum GRIB Jaya, Rosario de Marshal atau yang akrab disapa Hercules, akhirnya angkat bicara mengenai ketegangan yang terjadi antara dirinya dan penulis Ahmad Bahar. Ia menegaskan bahwa perselisihan tersebut dipicu oleh dugaan teror yang dilakukan Ahmad Bahar terhadap istrinya melalui pesan WhatsApp.

“Saya perlu tegaskan bahwa yang memulai semua ini adalah saudara Ahmad Bahar. Ia meneror istri saya melalui pesan WhatsApp di ponsel istri saya,” ujar Hercules dalam konferensi pers di kantor DPP GRIB Jaya, Minggu (24/5/2026).

Ia mengklaim memiliki bukti berupa percakapan dan video yang memperlihatkan wajah Ahmad Bahar saat berada di Stasiun Pegaden. Dalam pesan tersebut, Ahmad Bahar disebutkan mengancam akan mendatangi rumahnya dan mengirimkan kata-kata kasar kepada istrinya. “Mana suami kamu? Suami kamu itu (kata kasar),” ucap Hercules menirukan isi pesan tersebut.

Menurut Hercules, istrinya terkejut menerima pesan dari orang yang tidak dikenal. Ia meyakini tindakan Ahmad Bahar dipicu oleh pernyataan Hercules sebelumnya yang menyoroti pernyataan Ketua Majelis Syuro Amien Rais terkait Presiden Prabowo Subianto dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

“Ternyata, buntut dari masalah ini adalah pernyataan saya saat acara ulang tahun GRIB mengenai Pak Amien Rais. Namun perlu ingat, saya tidak mengancam atau menjelek-jelekkan Pak Amien Rais. Saya hanya sebatas mengingatkan,” kata Hercules.

Ia menambahkan, “Beliau adalah seorang negarawan, tokoh panutan Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua MPR. Saya hanya menyarankan agar jika berbicara atau mengkritik, jangan sampai mendiskriminasi atau memvonis orang besar dengan tuduhan yang tidak berdasar. Pak Amien adalah milik kita semua, milik rakyat Indonesia.”

Setelah pernyataan itu muncul, Hercules mengaku Ahmad Bahar merespons dengan ancaman dan kata-kata kasar, serta meneror istrinya. “Istri saya trauma, bahkan anak-anak saya juga terkena dampaknya. Namun sekarang, ia memutarbalikkan fakta seolah-olah dia adalah korban dan kami adalah pelakunya. Ahmad Bahar ini sangat licik,” sesalnya.

Sementara itu, Hercules menjelaskan bahwa pihaknya kemudian mendatangi rumah Ahmad Bahar di kawasan Depok dengan membawa anak Ahmad Bahar yang didampingi Ketua RW dan Babinsa setempat. Kunjungan itu, kata dia, bertujuan untuk mengklarifikasi kasus tersebut kepada anak Ahmad Bahar.

“Saya membawa anak itu ke sini untuk klarifikasi baik-baik. Saya tanya kepadanya, 'Kenapa bapakmu mencari-cari saya dan menghina saya?' Saya juga bertanya bagaimana mereka bisa mendapatkan nomor ponsel istri saya, karena hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya,” imbuhnya.

Hercules membantah tudingan telah melakukan intimidasi dengan memaksa anak Ahmad Bahar membuka jilbab dan menodongkan senjata api. Ia memastikan anak tersebut diperlakukan dengan baik selama berada di tempatnya. “Di sini ada lima anggota GRIB perempuan yang menemani. Saat ia mengaku pusing dan flu, kami carikan obat Panadol dan memberinya makan karena ia belum makan,” katanya.

Setelah itu, lanjut dia, pihak Polres Metro Depok menghubungi pengacaranya. Hercules menyampaikan kepada petugas piket bahwa anak Ahmad Bahar berada di DPP GRIB Jaya dalam keadaan baik. Selanjutnya, anak tersebut diantarkan ke Polres Metro Depok untuk diselesaikan secara damai. “Karena ayahnya sudah berada di Polres Depok, maka Ketua RW beserta tim pengacara kami mengantarkan anak tersebut ke Polres Depok untuk bertemu ayahnya agar masalah ini bisa diklarifikasi dan diselesaikan,” jelas dia.

Hercules mengira persoalan telah selesai setelah adanya pertemuan dan permintaan maaf. Namun, ia kecewa karena pihak lawan justru melaporkan kasus ini ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Muhammadiyah, Komnas HAM, dan Polda Metro Jaya dengan narasi yang membalikkan posisi sebagai korban. “Kami kira masalah sudah selesai setelah ada pertemuan dan permintaan maaf. Namun, ternyata mereka justru melaporkan kami ke LBH Muhammadiyah, Komnas HAM, dan Polda Metro Jaya dengan narasi seolah-olah mereka adalah korban,” pungkasnya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar