Netanyahu dan Trump Sepakat Perjanjian Akhir dengan Iran Harus Hentikan Total Ancaman Nuklir

- Senin, 25 Mei 2026 | 01:55 WIB
Netanyahu dan Trump Sepakat Perjanjian Akhir dengan Iran Harus Hentikan Total Ancaman Nuklir

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa dirinya dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memiliki pandangan yang sama bahwa setiap perjanjian final dengan Iran harus mampu menghilangkan sepenuhnya ancaman nuklir dari negara tersebut. Netanyahu menegaskan bahwa kesepakatan yang hanya membatasi program nuklir Iran tidaklah cukup, melainkan harus mencakup penghentian total kemampuan negara itu dalam mengembangkan senjata nuklir.

Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu setelah melakukan pembicaraan dengan Trump pada Sabtu (24/5/2026) malam. Trump sebelumnya mengklaim bahwa percakapan itu berlangsung sangat baik.

“Presiden Trump dan saya sepakat bahwa setiap perjanjian akhir dengan Iran harus sepenuhnya menghilangkan ancaman nuklir. Ini berarti membongkar fasilitas pengayaan uranium Iran dan memindahkan material nuklir yang diperkaya dari wilayahnya,” kata Netanyahu dalam pernyataan yang dikutip oleh AFP pada Senin (25/5/2026).

Ia juga menegaskan bahwa sikap pemerintah Israel terhadap program nuklir Iran tidak mengalami perubahan. “Kebijakan saya, seperti kebijakan Presiden Trump, tetap tidak berubah: Iran tidak akan memperoleh senjata nuklir,” tambahnya.

Selain membahas isu nuklir Iran, Netanyahu mengungkapkan bahwa dirinya dan Trump juga membicarakan nota kesepahaman terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Dalam kesempatan itu, Netanyahu turut menyoroti kuatnya hubungan antara Israel dan Amerika Serikat di tengah situasi kawasan yang semakin memanas.

“Kemitraan antara kedua negara kita telah terbukti di medan perang, dan tidak pernah sekuat ini,” ujar Netanyahu.

Ia menambahkan bahwa Trump kembali menegaskan dukungannya terhadap hak Israel untuk mempertahankan diri dari berbagai ancaman keamanan. Menurut Netanyahu, Trump mendukung hak Israel untuk membela diri terhadap ancaman di semua lini, termasuk di Lebanon.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar