Kapolda Riau Serukan Kewajiban Moral Kolektif dalam Festival Seni Konservasi Gajah

- Minggu, 12 April 2026 | 00:55 WIB
Kapolda Riau Serukan Kewajiban Moral Kolektif dalam Festival Seni Konservasi Gajah

Malam itu, di tepian Sungai Siak yang gelap, kerlap-kerlip lampu dari Rumah Singgah Tuan Kadi justru memancarkan semangat berbeda. Sabtu, 11 April 2026, menjadi saksi sebuah perhelatan yang disebut-sebut sebagai yang pertama di Indonesia: Festival Seni Konservasi Gajah. Dan di tengah kerumunan, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan berdiri, menyuarakan sesuatu yang ia sebut sebagai kewajiban moral kita semua.

Bagi Herry Heryawan, acara ini jelas bukan sekadar seremoni belaka. Dalam sambutannya yang penuh gairah, jenderal bintang dua itu menggambarkan situasi saat ini sebagai sebuah persimpangan. Di satu sisi, tekanan terhadap alam kian menjadi. Di sisi lain, komitmen untuk melihat hutan dan isinya sebagai bagian tak terpisah dari hidup manusia harus ditegakkan. “Ini soal keberanian,” kira-kira begitu nada yang ia sampaikan.

“Hari ini adalah momentum luar biasa,” tegasnya, suaranya lantang menembus udara malam.

“Kita hadir untuk menegaskan kewajiban moral kita secara kolektif terhadap alam dan ekosistem di dalamnya, termasuk gajah yang hingga kini terus diburu secara liar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.”

Ucapannya itu menyentuh persoalan inti. Gajah, satwa ikonis yang selama ini kehilangan ‘suara’nya. Habitatnya tergusur, populasinya merosot, diburu oleh mereka yang hanya memikirkan keuntungan sesaat. Festival ini, menurut Kapolda, hadir untuk menjadi suara bagi mereka yang tak bisa bersuara.

“Mereka tidak bisa bersuara saat tempat tinggalnya digeser. Maka, kita di sini hadir sebagai suara bagi mereka,” tambahnya, menekankan nuansa naratif yang kuat dari acara tersebut.

Namun begitu, komitmennya tak berhenti di kata-kata. Lulusan Akpol 96 ini menegaskan kembali upaya penegakan hukum yang konkret. Ia mengingatkan kolaborasi Polda Riau dengan Balai Taman Nasional Tesso Nilo dan BKSDA untuk membongkar sindikat perburuan liar. Edukasi masif penting, tapi tindakan tegas terhadap pelaku kejahatan lingkungan adalah keharusan.

Ajakan pun dilayangkannya. Herry Heryawan mengajak seluruh masyarakat Riau untuk berdiri tegak. Melawan siapa pun yang merusak alam, baik itu pemburu liar maupun perusak hutan. “Kita harus menegakkan kepala kita untuk menantang orang-orang itu,” serunya, menggebu.

Ia berharap tanggal 11 April akan dikenang sebagai tonggak baru. Sebuah titik awal di mana kesadaran kolektif benar-benar bergerak. Kehadiran beragam elemen masyarakat malam itu dari pejabat, tokoh adat, aktivis, hingga seniman ia anggap sebagai modal berharga.

“Mudah-mudahan hari ini kita membuat satu sejarah bagi semuanya. Kehadiran Bapak dan Ibu di sini adalah sumbangan besar bagi kita semua untuk terus memberikan keadilan kepada alam,” pungkasnya.

Festival itu sendiri berlangsung meriah. Wakapolda Riau Brigjen Hengky Haryadi dan sejumlah pejabat terlihat hadir. Acara dimeriahkan oleh aksi teatrikal, pembacaan puisi, dan lomba melukis, menciptakan sebuah harmoni antara seni dan pesan konservasi yang ingin disampaikan. Suasana tepian sungai pun menjadi saksi bisu sebuah ikrar untuk Bumi Lancang Kuning.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar