Malam itu, di tepian Sungai Siak yang gelap, kerlap-kerlip lampu dari Rumah Singgah Tuan Kadi justru memancarkan semangat berbeda. Sabtu, 11 April 2026, menjadi saksi sebuah perhelatan yang disebut-sebut sebagai yang pertama di Indonesia: Festival Seni Konservasi Gajah. Dan di tengah kerumunan, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan berdiri, menyuarakan sesuatu yang ia sebut sebagai kewajiban moral kita semua.
Bagi Herry Heryawan, acara ini jelas bukan sekadar seremoni belaka. Dalam sambutannya yang penuh gairah, jenderal bintang dua itu menggambarkan situasi saat ini sebagai sebuah persimpangan. Di satu sisi, tekanan terhadap alam kian menjadi. Di sisi lain, komitmen untuk melihat hutan dan isinya sebagai bagian tak terpisah dari hidup manusia harus ditegakkan. “Ini soal keberanian,” kira-kira begitu nada yang ia sampaikan.
“Hari ini adalah momentum luar biasa,” tegasnya, suaranya lantang menembus udara malam.
“Kita hadir untuk menegaskan kewajiban moral kita secara kolektif terhadap alam dan ekosistem di dalamnya, termasuk gajah yang hingga kini terus diburu secara liar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.”
Ucapannya itu menyentuh persoalan inti. Gajah, satwa ikonis yang selama ini kehilangan ‘suara’nya. Habitatnya tergusur, populasinya merosot, diburu oleh mereka yang hanya memikirkan keuntungan sesaat. Festival ini, menurut Kapolda, hadir untuk menjadi suara bagi mereka yang tak bisa bersuara.
“Mereka tidak bisa bersuara saat tempat tinggalnya digeser. Maka, kita di sini hadir sebagai suara bagi mereka,” tambahnya, menekankan nuansa naratif yang kuat dari acara tersebut.
Artikel Terkait
Intelijen AS Ungkap Rencana Pengiriman Rudal Anti-Pesawat China ke Iran
Imigrasi Siapkan Jalur Cepat dan Tim Khusus untuk Atlet Asing
Duel Dua Rising Star BRI Liga 1: Malut United Vs Dewa United di Ternate
Rennes Kalahkan Angers, Perkuat Peluang ke Liga Champions