Dalam sepak bola, setiap pelatih hebat hampir selalu memiliki sosok yang menjadi perpanjangan tangan di lapangan, seorang pemain yang tidak hanya mampu menjalankan instruksi, tetapi juga menjadi pusat kreativitas, penghubung antar lini, sekaligus pembeda ketika pertandingan berjalan buntu. Saat menukangi PSM Makassar, Bernardo Tavares memiliki sosok itu dalam diri Wiljan Pluim, kapten asal Belanda yang bukan sekadar pemain asing biasa. Selama beberapa musim, Pluim menjadi jantung permainan Pasukan Ramang; hampir seluruh aliran serangan berawal dari kakinya, dan ketenangan, visi bermain, serta kemampuannya membaca ruang membuatnya sangat sulit tergantikan. Ketika PSM meraih gelar juara Liga 1 musim 2022/2023, peran Pluim menjadi salah satu fondasi utama keberhasilan tersebut, dengan Tavares membangun sistem permainan yang memungkinkan sang kapten menjadi pusat distribusi bola sementara pemain lain bergerak mengikuti ritme yang ia ciptakan.
Kini, setelah perjalanan panjang bersama PSM berakhir dan Bernardo Tavares berpeluang memulai tantangan baru bersama Persebaya Surabaya, situasinya terasa menarik. Sebab di Kota Pahlawan, sudah ada sosok yang memiliki karakter serupa, yaitu Francisco Rivera. Pemain asal Meksiko itu baru saja memperpanjang kontraknya bersama Persebaya selama tiga musim ke depan, sebuah keputusan yang bukan hanya menunjukkan kepercayaan manajemen, tetapi juga menjadi sinyal bahwa Bajul Ijo ingin membangun masa depan tim dengan menjadikannya sebagai salah satu fondasi utama. Bagi Rivera, Persebaya bukan lagi sekadar klub persinggahan.
Sejak datang ke Indonesia pada 2023 dan bergabung bersama Madura United, gelandang serang berusia 31 tahun tersebut langsung menunjukkan kualitasnya. Ia menjelma menjadi motor permainan Laskar Sapeh Kerrab dan berperan besar membawa tim melaju hingga babak final Championship Series. Musim itu menjadi panggung yang memperkenalkan Rivera kepada publik sepak bola Indonesia; dengan torehan sembilan gol dan 18 assist dari 36 pertandingan, ia dinobatkan sebagai pemain terbaik kompetisi. Statistik tersebut bukan sekadar angka, melainkan bukti kemampuannya mengubah jalannya pertandingan melalui kreativitas dan kecerdasan membaca permainan.
Persebaya pun bergerak cepat mengamankan jasanya pada musim berikutnya, dan keputusan tersebut terbukti tepat. Pada musim 2024/2025, Rivera langsung menjadi figur sentral dalam permainan Bajul Ijo. Delapan gol dan tujuh assist berhasil ia catatkan dalam 29 pertandingan, namun yang paling menonjol bukanlah jumlah golnya, melainkan pengaruhnya terhadap cara bermain tim. Saat Rivera berada di lapangan, Persebaya terlihat lebih hidup serangan lebih terorganisir, transisi berjalan lebih lancar, dan para penyerang mendapatkan suplai bola yang lebih berkualitas. Peran itu semakin terlihat pada musim 2025/2026, ketika ia tampil dalam performa terbaiknya dengan mencatatkan 13 gol dan 10 assist. Catatan dua digit gol dan assist sekaligus menjadi bukti bahwa dirinya bukan hanya kreator, tetapi juga eksekutor yang mampu menyelesaikan peluang.
Konsistensi itulah yang akhirnya membuat manajemen Persebaya tidak ragu menawarkan kontrak baru berdurasi tiga tahun.
“Pertama-tama saya sangat senang bisa melanjutkan perjalanan bersama Persebaya. Di klub ini saya merasa seperti berada di keluarga sendiri. Saya juga merasa seperti di rumah. Karena itu saya berharap musim depan kami bisa kembali berjuang bersama untuk mencapai target tim,” ujar Rivera.
Dengan kontrak terbaru tersebut, total masa baktinya di Persebaya akan mencapai lima musim, sebuah pencapaian yang membuat klub asal Surabaya itu menjadi tim yang paling lama dibelanya sepanjang karier profesional. Bagi Rivera, kenyamanan menjadi salah satu alasan utama bertahan. “Sejak bergabung pada 2024, Persebaya menjadi klub yang paling lama saya bela dalam karier profesional. Di sini saya merasa sangat menikmati setiap momen, baik saat latihan maupun pertandingan,” katanya.
Jika benar Bernardo Tavares menjadi pelatih Persebaya musim depan, maka kolaborasi keduanya akan menjadi salah satu hal yang paling menarik untuk disaksikan. Tavares dikenal sebagai pelatih yang menyukai pemain-pemain cerdas secara taktik. Di PSM, ia menemukan sosok tersebut dalam diri Wiljan Pluim. Kini di Surabaya, ia berpotensi memiliki figur dengan karakter yang tidak jauh berbeda. Memang, Rivera dan Pluim adalah dua pemain dengan gaya bermain yang berbeda. Pluim lebih dominan sebagai pengatur tempo yang mengendalikan ritme pertandingan dari lini tengah, sementara Rivera lebih agresif dalam mencari ruang dan memberikan umpan-umpan progresif ke area pertahanan lawan.
Namun, keduanya memiliki satu kesamaan penting: kemampuan menjadi pusat permainan tim. Dalam sepak bola modern, pemain seperti itu sangat berharga. Mereka adalah otak di balik serangan, pemain yang mampu menerjemahkan ide pelatih menjadi aksi nyata di lapangan. Karena itu, perpanjangan kontrak Francisco Rivera tidak hanya berarti mempertahankan seorang pemain asing berkualitas. Lebih dari itu, Persebaya sedang menjaga salah satu aset terpenting mereka menjelang musim baru. Dan jika nantinya Bernardo Tavares benar-benar berlabuh di Surabaya, maka ia tidak perlu memulai semuanya dari nol. Sebab di ruang ganti Bajul Ijo, sudah ada sosok yang berpotensi menjadi “Wiljan Pluim baru” dalam proyek besarnya bersama Persebaya Surabaya.
Artikel Terkait
Manchester United Tawarkan Harry Maguire ke Inter Milan di Bursa Transfer Musim Panas 2026
Kiandra Ramadhipa Gagal Finis di Mugello Usai Kecelakaan di Lap Terakhir Saat Incar Podium
Veda Ega Pratama Start ke-13 di Moto3 Italia, Siap Agresif Kejar Poin Maksimal
FIFA Jatuhkan Sanksi Larangan Transfer ke PSIS Semarang Selama Tiga Periode