Bank Dunia Proyeksikan Pertumbuhan Vietnam dan Thailand Anjlok Imbas Konflik Timur Tengah

- Minggu, 12 April 2026 | 00:30 WIB
Bank Dunia Proyeksikan Pertumbuhan Vietnam dan Thailand Anjlok Imbas Konflik Timur Tengah

Gelombang kejut dari konflik Timur Tengah ternyata tak cuma dirasakan di sekitar wilayah itu. Menurut laporan terbaru Bank Dunia, dua negara di Asia Tenggara, Vietnam dan Thailand, bakal merasakan pukulan ekonomi yang cukup berat. Proyeksi untuk tahun 2026 menunjukkan penurunan pertumbuhan yang signifikan bagi keduanya.

Laporan East Asia & Pacific Economic Update yang baru dirilis pekan ini menyoroti bagaimana ketegangan antara Iran, AS, dan Israel telah menggoyang perekonomian global. Imbasnya langsung terasa: harga energi melambung tinggi.

"Konflik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga energi, yang secara langsung merugikan negara importir energi,"

Demikian penjelasan Bank Dunia dalam laporannya, seperti dikutip akhir pekan lalu. Nah, Vietnam dan Thailand termasuk yang paling terpapar. Untuk Vietnam, angka pertumbuhannya diprediksi anjlok ke 6,3 persen di 2026. Padahal tahun sebelumnya sempat mencapai 8,0 persen. Lumayan tajam juga penurunannya.

Di sisi lain, prospek Thailand bahkan lebih suram. Ekonominya mungkin cuma tumbuh 1,3 persen tahun ini, melorot jauh dari ekspansi 2,4 persen di 2025.

Namun begitu, dampaknya tak berhenti di dua negara itu saja. Filipina, misalnya, juga terkena imbas cukup besar. Pertumbuhan ekonominya diperkirakan merosot ke 3,7 persen dari sebelumnya 4,4 persen. Malaysia pun ikut terkena getahnya, dengan ekspansi PDB yang diprediksi turun ke 4,4 persen dari 4,9 persen.

Bagaimana dengan Indonesia? Ekonomi kita diproyeksikan masih tumbuh, meski agak melambat. Angkanya sekitar 4,7 persen tahun ini, setelah sebelumnya mencatat 5,1 persen. Laporan Bank Dunia ini fokus pada negara berkembang di kawasan Asia Timur dan Pasifik, jadi negara seperti Singapura tidak tercakup di dalamnya.

Intinya, riak konflik yang jauh di sana ternyata bisa jadi ombak besar bagi perekonomian negara-negara yang bergantung pada impor energi. Situasinya perlu dicermati betul.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar