Wajah politik Sulawesi Selatan berubah. Babak baru benar-benar dimulai, ditandai dengan peta kekuasaan yang kini terbagi di antara tiga partai besar: Golkar, Nasdem, dan Gerindra. Kemenangan para kadernya di berbagai daerah mengukuhkan sebuah era kompetisi yang ketat.
Gone are the days of "satu warna". Yang terjadi sekarang adalah pembagian wilayah pengaruh yang dinamis, bahkan keras. Setiap partai punya kantong kekuatannya masing-masing.
Golkar: Sang Jago Lama yang Masih Perkasa
Harus diakui, mesin politik Golkar masih yang paling berpengalaman. Kemenangan paling simbolis tentu di Kota Makassar, lewat Munafri Arifuddin. Ini menempatkan Beringin kembali di jantung denyut nadi politik Sulsel.
Tak cuma itu. Mereka juga menguasai daerah-daerah strategis lain. Sebut saja Andi Ina Kartika di Barru, Suwardi Haseng di Soppeng, hingga Islam Iskandar di Jeneponto. Basis tradisionalnya di wilayah pesisir dan daerah dengan jaringan loyalis kuat tetap menjadi tulang punggung.
Di sisi lain, Nasdem muncul dengan energi berbeda.
Nasdem: Gelombang Ekspansi yang Tak Terbendung
Partai ini menunjukkan progresivitasnya. Puncaknya, berhasil menempatkan Fatmawati Rusdi sebagai Wakil Gubernur. Kekuatan mereka terkonsentrasi di kawasan Ajatappareng dan pesisir barat.
Nama-nama seperti Syaharuddin Alrif di Sidrap, Yusran Lologau di Pangkep, dan Irwan Bachri Syam di Luwu Timur menjadi simbol kekuatan baru. Mereka siap menggoyang dominasi lama yang sudah mapan.
Gerindra: Raja di Daratan Tinggi dan Selatan
Lalu, ada Gerindra. Di bawah bayang-bayang popularitas kepemimpinan nasional, partai ini sukses nyaris menyapu bersih wilayah pegunungan. Cengkeramannya di selatan juga makin kuat.
Secara angka, mereka bahkan punya kepala daerah terbanyak. Darmawangsyah Muin di Gowa, Andi Muchtar Ali Yusuf di Bulukumba, hingga Zadrak Tambeg di Tana Toraja. Daftarnya panjang, menunjukkan penetrasi yang dalam.
Arena Negosiasi Elit Menuju 2029
Menanggapi peta rumit ini, Pengamat Politik dari UIN Alauddin Makassar, Reskiyanti Nurdin, punya pandangan menarik. Menurutnya, meski masih jauh, pola untuk Pilkada 2029 sudah mulai terlihat.
"Pilkada 2029 akan ditentukan oleh kompetisi tripolar antara Golkar, Nasdem, dan Gerindra yang berbasis pada kekuatan figur dan koalisi pragmatis," ujar Reskiyanti.
Ia membeberkan karakter tiap partai. Golkar diuntungkan oleh struktur dan jaringan historisnya. Nasdem punya tren ekspansif yang kuat, didorong perolehan kursi DPRD. Sementara Gerindra, peluangnya meningkat berkat efek elektoral Prabowo di tingkat lokal.
Reskiyanti, yang mendalami riset partai politik, menekankan satu hal. Pertarungan ke depan sama sekali bukan soal ideologi.
"Ketiga kekuatan ini tidak bekerja dalam garis ideologis yang kaku, melainkan dalam pola koalisi cair dan transaksional. Pilkada 2029 kemungkinan besar akan lebih menyerupai arena negosiasi elit daripada kontestasi programatik," pungkasnya.
Jadi, beginilah hitung-hitungan kasarnya: Gerindra memimpin dengan 9 daerah, disusul Golkar 8, dan Nasdem 7 (termasuk Wagub). Konfigurasi ini jelas akan mewarnai politik Sulsel ke depan. Adu pengaruh, lobi-lobi tingkat tinggi, dan manuver antar tiga poros ini akan menentukan siapa yang maju pada 2029. Politik memang tak pernah tidur.
Artikel Terkait
Perindo Sultra Kurban Lima Sapi untuk Warga Kurang Mampu di Kendari
Atta Halilintar Sebar 12 Ekor Sapi Kurban ke Sejumlah Daerah di Jawa Barat
Ria Ricis Buka Suara soal Operasi Hidung: Bukan demi Estetika, tapi karena Gangguan Pernapasan Akibat Tulang Bengkok
MUI: Penggunaan APBN untuk Hewan Kurban Presiden Tidak Melanggar Syariat Islam