Wajah politik Sulawesi Selatan berubah. Babak baru benar-benar dimulai, ditandai dengan peta kekuasaan yang kini terbagi di antara tiga partai besar: Golkar, Nasdem, dan Gerindra. Kemenangan para kadernya di berbagai daerah mengukuhkan sebuah era kompetisi yang ketat.
Gone are the days of "satu warna". Yang terjadi sekarang adalah pembagian wilayah pengaruh yang dinamis, bahkan keras. Setiap partai punya kantong kekuatannya masing-masing.
Golkar: Sang Jago Lama yang Masih Perkasa
Harus diakui, mesin politik Golkar masih yang paling berpengalaman. Kemenangan paling simbolis tentu di Kota Makassar, lewat Munafri Arifuddin. Ini menempatkan Beringin kembali di jantung denyut nadi politik Sulsel.
Tak cuma itu. Mereka juga menguasai daerah-daerah strategis lain. Sebut saja Andi Ina Kartika di Barru, Suwardi Haseng di Soppeng, hingga Islam Iskandar di Jeneponto. Basis tradisionalnya di wilayah pesisir dan daerah dengan jaringan loyalis kuat tetap menjadi tulang punggung.
Di sisi lain, Nasdem muncul dengan energi berbeda.
Nasdem: Gelombang Ekspansi yang Tak Terbendung
Partai ini menunjukkan progresivitasnya. Puncaknya, berhasil menempatkan Fatmawati Rusdi sebagai Wakil Gubernur. Kekuatan mereka terkonsentrasi di kawasan Ajatappareng dan pesisir barat.
Nama-nama seperti Syaharuddin Alrif di Sidrap, Yusran Lologau di Pangkep, dan Irwan Bachri Syam di Luwu Timur menjadi simbol kekuatan baru. Mereka siap menggoyang dominasi lama yang sudah mapan.
Artikel Terkait
Pria Tewas Ditikam Orang Tak Dikenal di Lubuklinggau
Pemerintah Klaim Selamatkan Rp31,3 Triliun untuk Perbaikan Sekolah
PSIM Yogyakarta Ditaklukan PSM Makassar 2-1 Lewat Gol Dramatis Injury Time
Prabowo Saksikan Penyerahan Rp11,4 Triliun dan Reklamasi Lahan ke Negara