Kemhan dan TNI Siapkan Efisiensi BBM untuk Antisipasi Gejolak Global

- Rabu, 25 Maret 2026 | 08:30 WIB
Kemhan dan TNI Siapkan Efisiensi BBM untuk Antisipasi Gejolak Global

Jakarta - Langkah efisiensi penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) tengah disiapkan oleh Kementerian Pertahanan bersama TNI. Rencananya, kebijakan ini akan diterapkan secara bertahap dan terukur. Latar belakangnya jelas: dinamika geopolitik global yang fluktuatif dinilai berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi ke depan.

Menurut Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, selaku Karo Infohan Sekretariat Jenderal Kemhan, langkah ini adalah bentuk mitigasi dini. Tujuannya, menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan nasional dari kemungkinan gejolak yang tak terduga.

“Pemerintah memandang perlunya mitigasi dini guna menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan nasional,” jelas Rico dalam keterangannya, Rabu (25/3/2026).

Ia menambahkan, kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya langkah proaktif. Poin utamanya adalah efisiensi nasional, tapi tanpa sampai mengganggu pelayanan publik atau kesiapsiagaan pertahanan negara.

Nah, sebagai tindak lanjut, Kemhan dan TNI kini melakukan sejumlah penyesuaian internal. Rico menyebut penyesuaian itu bersifat administratif dan manajerial belaka.

“Sebagai tindak lanjut, Kemhan dan TNI melakukan penyesuaian internal yang bersifat administratif dan manajerial,” ujarnya.

Yang perlu ditekankan, efisiensi ini difokuskan pada aspek pendukung. Sementara itu, operasional strategis dan kesiapsiagaan pertahanan tetap menjadi prioritas utama. Semua kemampuan pertahanan dijaga agar tetap optimal.

Lalu, seperti apa bentuk konkretnya? Rico mengungkapkan, langkah-langkahnya mencakup pengaturan penggunaan sumber daya yang lebih efektif dan tentu saja berbasis prioritas. Hal ini berlaku untuk operasional alutsista hingga mobilitas dinas sehari-hari.

“Langkah-langkah yang disiapkan mencakup pengaturan penggunaan sumber daya secara lebih efektif dan berbasis prioritas, termasuk dalam operasional alutsista dan mobilitas dinas,” ungkapnya.

Pelaksanaannya pun tak seragam. Seluruh kebijakan akan dilaksanakan secara adaptif, terukur, dan bertahap. Semua disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing satuan kerja di lapangan.

Beberapa opsi yang sedang digodok antara lain mengubah hari kerja dari lima hari menjadi empat hari untuk fungsi-fungsi tertentu yang memungkinkan. Kemudian, ada pengaturan penggunaan alutsista berdasarkan indeks prioritas kebutuhan operasi. Tak ketinggalan, pembatasan penggunaan kendaraan dinas dan angkutan jemputan pegawai, tapi dengan catatan: efektivitas pelaksanaan tugas harus tetap terjaga.

“Selanjutnya, pengaturan penggunaan alutsista berdasarkan indeks prioritas dan kebutuhan operasi, serta pembatasan penggunaan kendaraan dinas dan angkutan jemputan pegawai dengan tetap memperhatikan efektivitas pelaksanaan tugas,” imbuhnya.

Di sisi lain, Kemhan menegaskan poin penting. Efisiensi ini murni wujud dari kesiapsiagaan dan disiplin dalam mengelola sumber daya strategis. Bukan berarti negara sedang dalam kondisi darurat atau kelangkaan.

Rico pun menutup penjelasannya dengan pesan yang menenangkan. “Pemerintah juga menegaskan bahwa cadangan energi nasional saat ini tetap dalam kondisi aman,” jelasnya. Jadi, ini lebih tentang antisipasi, bukan karena ada masalah mendesak.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar