Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mendorong seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk menyelaraskan arah riset dan inovasi dengan kebutuhan spesifik di masing-masing daerah, agar hasil penelitian kampus dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh pemerintah dan masyarakat setempat.
“Yang penting menjadi catatan, hasil-hasil riset dan inovasi itu perlu disesuaikan dengan kebutuhan di daerah masing-masing, sehingga apa yang diteliti dan dikembangkan kampus nantinya benar-benar dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah dan masyarakat setempat,” ujar Brian saat menghadiri agenda “Bincang Pagi” di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu.
Dalam kesempatan tersebut, Mendiktisaintek membahas sejumlah isu strategis pendidikan tinggi, mulai dari pemerataan akses pendidikan, penguatan riset, hingga pengembangan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Menurut dia, tantangan utama pemerataan pendidikan di Indonesia masih berkaitan erat dengan kondisi ekonomi masyarakat. Sementara itu, terkait pendanaan riset, ia menegaskan bahwa anggaran riset nasional tidak mengalami penurunan.
“Dana riset sebenarnya tidak turun. Yang daftar naik tiga sampai empat kali lipat dan ada honor 25 persen. Jadi jumlahnya tidak turun, justru bertambah. Namun persaingannya menjadi lebih ketat,” kata Brian.
Ia juga menyoroti kebijakan penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang dibatasi hingga maksimal 30 Juli. Di sisi lain, PTS mendapat kesempatan lebih panjang untuk membuka pendaftaran hingga September atau awal Oktober. Selain itu, Mendiktisaintek menekankan pentingnya pengelolaan sampah secara mandiri di lingkungan kampus sebagai bagian dari kontribusi nyata institusi pendidikan terhadap lingkungan.
Usai agenda bincang pagi, Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) Prof. Mundakir bersama jajaran pimpinan kampus mengajak Brian berkeliling melihat berbagai inovasi hasil karya dosen dan mahasiswa yang berada di bawah naungan Center for Impactful Innovation (CII). Puluhan produk inovasi yang telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dipamerkan, mencakup bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, teknik, hingga teknologi tepat guna lainnya.
Prof. Mundakir menyambut baik kebijakan pemerintah terkait penguatan PTS melalui penguatan kurikulum, transformasi digital, serta dukungan terhadap riset dan inovasi. “Saya kira ini bagian dari perwujudan Kampus Berdampak. Kami mendukung program tersebut dengan mengarahkan riset-riset kampus pada kebermanfaatan di lingkungan sekitar,” ujarnya.
Ia mencontohkan kerja sama Umsura dengan Pemerintah Kota Surabaya dalam pemanfaatan panel surya untuk rumah pompa air sebagai bentuk kontribusi nyata kampus kepada masyarakat. Ke depan, Umsura juga terus mengembangkan program studi baru yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan industri.
Artikel Terkait
PGN Terapkan Ekonomi Sirkular dengan Kelola Sampah Plastik Jadi Produk Bernilai Guna
26 Siswa Masih Dirawat Usai Diduga Keracunan Pangsit Isi Tahu di Pulogebang
PLN Resmikan SPKLU Center Pertama di Banten dengan Teknologi Ultra Fast Charging di PIK 2
Kerusuhan Pecah di Stadion Lukas Enembe Usai Persipura Kalah, Suporter Rusak Fasilitas dan Bakar Kendaraan