Anggota DPR Kritik LPDP: Beasiswa Negara Dinilai Lebih Mudah Diakses Kalangan Mampu

- Minggu, 22 Februari 2026 | 14:50 WIB
Anggota DPR Kritik LPDP: Beasiswa Negara Dinilai Lebih Mudah Diakses Kalangan Mampu

MURIANETWORK.COM - Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR, M. Sarmuji, menanggapi polemik penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, yang viral karena mengunggah kebahagiaan anaknya menjadi warga negara Inggris. Sorotan ini memicu perdebatan publik mengenai akses dan keadilan dalam program beasiswa negara yang dananya berasal dari masyarakat. Sarmuji lantas mengkritisi kecenderungan program tersebut yang dinilai lebih mudah diakses oleh kalangan ekonomi mampu, sementara masyarakat kurang mampu menghadapi hambatan struktural yang berat.

Peringatan Awal di Komisi DPR

Politikus Golkar itu mengaku telah mengingatkan pemerintah mengenai potensi masalah ini sejak lama. Dalam sebuah rapat kerja dengan Kementerian Keuangan pada awal 2022, Sarmuji menyampaikan kekhawatirannya bahwa tanpa kebijakan afirmatif yang jelas, program LPDP berisiko hanya dinikmati oleh lingkaran tertentu.

“Saya sendiri pernah mengingatkan soal ini dalam rapat kerja (Komisi XI DPR) dengan Kementerian Keuangan pada awal tahun 2022. Saya sampaikan bahwa LPDP ini kalau tidak ada penekanan dan afirmasi yang jelas, akan menjadi lingkaran yang dinikmati oleh orang kaya saja,” tuturnya, Minggu (22/2/2026).

Hambatan Bahasa dan Akses yang Tidak Setara

Sarmuji menjelaskan, syarat administrasi seperti nilai TOEFL yang tinggi sering kali menjadi penghalang besar. Kriteria semacam itu, menurutnya, secara tidak langsung telah melakukan seleksi berdasarkan latar belakang ekonomi, karena hanya mereka yang memiliki akses ke pendidikan dan kursus berkualitas yang mampu memenuhinya.

“Kalau tidak ada afirmasi, yang akan menikmati hanya orang kaya, karena syarat-syarat itu berat sekali. TOEFL bahasa Inggris-nya sekian-sekian. Dan orang yang bisa memenuhi kriteria ini rata-rata pasti orang kaya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa potensi akademik calon penerima beasiswa seharusnya menjadi pertimbangan utama, bukan sekadar kemampuan bahasa yang bisa ditingkatkan dengan bantuan negara. Tanpa intervensi yang tepat, program beasiswa justru akan mengukuhkan ketimpangan yang sudah ada.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar