Maybank Indonesia Raup Laba Rp299 Miliar di Kuartal I 2026, Kredit Tumbuh 5,4 Persen

- Jumat, 29 Mei 2026 | 22:55 WIB
Maybank Indonesia Raup Laba Rp299 Miliar di Kuartal I 2026, Kredit Tumbuh 5,4 Persen

PT Bank Maybank Indonesia Tbk mencatat laba bersih setelah pajak dan kepentingan non-pengendali (PATAMI) sebesar Rp299 miliar pada kuartal pertama tahun 2026. Angka ini diumumkan melalui siaran pers yang dirilis pada Jumat, 29 Mei 2026.

Pendapatan bunga bersih (NII) perseroan mencapai Rp1,81 triliun pada periode tersebut, tumbuh 2,1 persen secara tahunan. Kenaikan ini didorong oleh penurunan beban bunga serta perbaikan komposisi pendanaan. Sementara itu, marjin bunga bersih (NIM) tetap stabil di level 4,3 persen.

Fundamental bisnis inti bank dinilai masih kuat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit di sejumlah segmen yang diiringi perbaikan profil pendanaan. Kualitas aset juga menunjukkan tren positif dengan rasio kredit bermasalah (NPL) bruto sebesar 2,3 persen dan NPL bersih 1,4 persen pada Maret 2026, lebih baik dibandingkan posisi Maret 2025 yang masing-masing sebesar 2,4 persen dan 1,5 persen.

Di sisi lain, beban operasional naik 4,5 persen secara tahunan seiring aktivitas bisnis yang meningkat. Laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) tercatat sebesar Rp523 miliar. Adapun beban pencadangan berhasil ditekan hingga 47,9 persen secara tahunan menjadi Rp123 miliar, mencerminkan perbaikan kualitas aset dan penerapan manajemen risiko yang hati-hati.

Tekanan geopolitik global yang terjadi sepanjang kuartal pertama 2026 memicu volatilitas di pasar keuangan. Kondisi ini berdampak pada aktivitas perdagangan surat berharga dan valuta asing di lini Global Markets (GM), sehingga pendapatan fee GM turun menjadi Rp20 miliar.

Pendapatan non-bunga (NOII) secara keseluruhan pun terkontraksi 29,6 persen secara tahunan menjadi Rp402 miliar. Meskipun demikian, pendapatan fee dari segmen Premier Wealth justru tumbuh 20,0 persen. Secara total, pendapatan operasional bruto tercatat sebesar Rp2,22 triliun, menurun dari Rp2,35 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi penyaluran kredit, segmen non-ritel Community Financial Services (CFS) mencatat pertumbuhan 7,1 persen secara tahunan menjadi Rp39,89 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh kredit komersial (Business Banking) yang naik 15,6 persen menjadi Rp17,46 triliun serta segmen usaha kecil dan menengah (SME ) yang tumbuh 12,3 persen. Sebaliknya, kredit segmen non-ritel SME (RSME) justru turun 3,0 persen.

Kredit ritel CFS tumbuh 4,1 persen secara tahunan, didukung oleh pembiayaan otomotif dari anak usaha yang meningkat 7,4 persen serta kredit konsumer meliputi kartu kredit dan kredit tanpa agunan yang tumbuh 6,7 persen. Secara keseluruhan, kredit CFS ritel dan non-ritel tumbuh 5,4 persen menjadi Rp88,33 triliun.

Sementara itu, kredit korporasi Global Banking (GB) mencatat penurunan 12,4 persen secara tahunan. Namun, perseroan mencatat adanya peningkatan pada segmen Large Local Corporate (LLC) GB dan transaksi Shariah Restricted Investment Account (SRIA) yang akan dibukukan pada kuartal-kuartal berikutnya.

Hingga Maret 2026, total kredit yang disalurkan relatif stabil di angka Rp121,99 triliun. Total aset perseroan tercatat sebesar Rp192,17 triliun, naik 1,2 persen secara tahunan.

Simpanan nasabah meningkat 6,1 persen secara tahunan menjadi Rp118,35 triliun. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh giro yang melonjak 37,5 persen, sementara tabungan turun tipis 1,9 persen. Deposito berjangka turun 12,3 persen, sejalan dengan upaya bank memperkuat komposisi pendanaan dan mengoptimalkan biaya dana. Rasio dana murah (CASA) pun meningkat signifikan dari 53,0 persen pada Maret 2025 menjadi 61,2 persen pada Maret 2026.

Posisi permodalan bank tetap kokoh dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 26,3 persen dan rasio Common Equity Tier 1 (CET1) sebesar 25,2 persen. Likuiditas juga terjaga sehat dengan rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) bank-only sebesar 85,5 persen, rasio cakupan likuiditas (LCR) bank-only 146,2 persen, dan rasio pendanaan stabil bersih (NSFR) bank-only 112,4 persen.

Unit usaha syariah perseroan juga mencatatkan kinerja positif. Total pembiayaan syariah tumbuh 10,4 persen secara tahunan menjadi Rp32,23 triliun, didukung oleh pembiayaan CFS dan GB syariah. Pembiayaan CFS syariah meningkat 10,4 persen menjadi Rp23,16 triliun, sementara pembiayaan GB syariah tumbuh 10,3 persen menjadi Rp9,07 triliun.

Pertumbuhan pembiayaan CFS non-ritel syariah ditopang oleh segmen SME dan RSME yang masing-masing tumbuh 39,1 persen dan 6,0 persen. Adapun pembiayaan ritel CFS syariah meningkat 12,5 persen menjadi Rp10,78 triliun, terutama didorong oleh pembiayaan properti yang tumbuh 14,7 persen. Pembiayaan korporasi segmen GB-LLC syariah juga tumbuh 30,2 persen secara tahunan.

Total pembiayaan syariah Maybank Indonesia berkontribusi sebesar 30,2 persen terhadap total portofolio pembiayaan bank (bank-only), sementara total aset syariah menyumbang 24,5 persen terhadap total aset bank (bank-only).

Pada kuartal pertama 2026, perbankan syariah meluncurkan solusi SRIA pertama di Indonesia. Produk ini dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan investor tertentu yang ingin berpartisipasi dalam pembiayaan suatu badan usaha. Dalam pelaksanaannya, bank bertindak sebagai arranger. Hingga saat ini, nilai transaksi SRIA yang beredar telah mencapai Rp500 miliar.

Total simpanan perbankan syariah tumbuh 7,5 persen menjadi Rp35,50 triliun, didukung pertumbuhan giro dan tabungan (CASA) sebesar 28,8 persen secara tahunan. Giro tumbuh 60,1 persen menjadi Rp14,22 triliun, sementara tabungan naik 1,5 persen menjadi Rp10,29 triliun. Deposito berjangka turun 21,5 persen, sejalan dengan upaya optimalisasi komposisi pendanaan. Rasio CASA syariah meningkat dari 57,6 persen pada Maret 2025 menjadi 69,1 persen pada Maret 2026.

Kualitas aset perbankan syariah juga membaik. Rasio pembiayaan bermasalah (NPF) bruto tercatat 2,2 persen dan NPF bersih 1,5 persen pada Maret 2026, lebih rendah dibandingkan posisi Maret 2025 yang masing-masing sebesar 2,4 persen dan 1,7 persen. Rasio pembiayaan terhadap simpanan (FDR) tercatat sebesar 85,4 persen.

Laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) perbankan syariah meningkat 20,9 persen secara tahunan. Kenaikan ini didukung oleh pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang naik 5,9 persen di tengah biaya dana yang menurun. Pendapatan operasional lainnya juga meningkat 18,1 persen secara tahunan, didorong oleh pendapatan fee dari pembiayaan yang disalurkan dan transaksi reksa dana, khususnya dari layanan Shariah Wealth Management (SWM).

Beban pencadangan perbankan syariah turun drastis 69,8 persen secara tahunan setelah bank melakukan pencadangan pre-emptive pada tahun sebelumnya untuk menjaga kualitas aset. Alhasil, pada kuartal pertama 2026, perbankan syariah membukukan laba sebelum pajak (PBT) sebesar Rp226 miliar, melonjak 52,1 persen secara tahunan dibandingkan Rp149 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan mengungkapkan, kinerja bank pada kuartal pertama 2026 dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan geopolitik global dan volatilitas pasar.

“Dalam kondisi ini, kami menyesuaikan ekspektasi dan fokus memanfaatkan peluang pertumbuhan pada segmen ritel dan non-ritel, korporasi (GB) termasuk perbankan syariah di tengah ketidakpastian yang berlangsung di sepanjang kuartal. Ke depan, kami akan terus berupaya dalam menangkap peluang pertumbuhan melalui ekosistem Whole of Maybank serta, di saat yang sama, memperkuat bisnis inti sejalan dengan strategi ROAR30 Maybank Group,” ujarnya.

Presiden Komisaris Maybank Indonesia Dato’ Sri Khairussaleh Ramli menambahkan, kinerja bank pada kuartal pertama 2026 telah dibayangi volatilitas pasar. “Dari sisi arah bisnis, kami meyakini langkah memperkuat fundamental UKM akan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. Ini merupakan arah strategis yang telah kami canangkan di Maybank Group,” kata dia.

Dari sisi anak usaha, PT Maybank Indonesia Finance (Maybank Finance) mencatatkan total pembiayaan sebesar Rp8,61 triliun, meningkat 12,7 persen secara tahunan. Laba sebelum pajak (PBT) perusahaan pembiayaan ini naik 24,6 persen menjadi Rp177 miliar. Kualitas aset tetap terjaga dengan rasio NPL bruto 0,3 persen dan NPL bersih 0,1 persen pada Maret 2026.

Sementara itu, PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance) membukukan total pembiayaan sebesar Rp6,70 triliun, naik 7,4 persen secara tahunan. Namun, PBT perusahaan ini tercatat menurun 58,1 persen menjadi Rp33 miliar akibat pencadangan. Rasio NPL WOM Finance tetap stabil di level 2,2 persen (bruto) dan 1,0 persen (bersih) pada Maret 2026 maupun Maret 2025.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar