Kota memiliki cara tersendiri untuk berbicara kepada warganya. Bukan melalui baliho raksasa atau pidato resmi para pejabat, melainkan lewat kebijakan dan tindakan nyata dalam memperlakukan mereka yang tinggal di kampung-kampung padat wilayah yang kerap dipandang sebagai pengganggu estetika perkotaan. Pesan mendasar itulah yang mengemuka dalam peluncuran dan bedah buku berjudul Membangun Tanpa Menggusur yang digelar di Urban Knowledge Hub Jakarta, Gedung Nyi Ageng Serang, pada Jumat, 8 Mei 2026.
Buku karya M. Azka Gulsyan dan Untung Widyanto tersebut merekam secara detail perjalanan panjang warga Kampung Akuarium dan sejumlah kampung lain di Jakarta dalam memperjuangkan hak untuk tetap tinggal di tanah mereka sendiri. Bagi sebagian besar warga ibu kota, penggusuran pernah menjadi bagian dari keseharian yang pahit. Dalam kampanye Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012, pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama sempat mengusung gagasan membangun tanpa menggusur. Namun, setelah Jokowi meninggalkan kursi gubernur karena terpilih menjadi presiden, arah kebijakan berubah drastis.
Data yang dihimpun LBH Jakarta menunjukkan betapa tajamnya dampak kebijakan tersebut. Pada 2015, tercatat 113 kasus penggusuran yang menimpa 8.145 keluarga dan 6.283 unit usaha. Angka itu meningkat setahun kemudian menjadi 193 kasus penggusuran, dengan korban mencapai 5.726 keluarga serta 5.379 unit usaha. Kampung Pulo, Bukit Duri, Kalijodo, Kampung Luar Batang, Pasar Ikan, hingga Kampung Akuarium menjadi saksi bisu dari wajah keras pembangunan kota pada masa itu.
Namun, tidak semua warga memilih menyerah. Sebagian dari mereka, seperti warga Kampung Akuarium, Kampung Kunir, dan Bukit Duri, memutuskan untuk bertahan. Mereka menolak untuk dihapus dari peta kota dan mulai memperjuangkan gagasan sederhana namun fundamental: pembangunan seharusnya tidak memutus kehidupan warga yang telah lama menetap di sana. Perjuangan itu kemudian mendapat ruang baru dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno mengakomodasi tuntutan warga, dan sejumlah organisasi masyarakat sipil, komunitas, hingga arsitek sosial ikut mendampingi proses pembangunan kembali kampung melalui pendekatan partisipatif.
Nama-nama seperti UPC, JRMK, Rujak Center for Urban Studies, Komunitas Ciliwung Merdeka, LBH Jakarta, serta para arsitek sosial seperti Yu Sing dan Kamil Muhammad turut terlibat dalam proses tersebut. Warga tidak lagi hanya menjadi objek pembangunan, melainkan ikut menentukan bentuk ruang hidup mereka sendiri. Untung Widyanto, wartawan senior yang menjadi salah satu penulis buku, menegaskan bahwa kisah perjuangan warga menjadi bagian penting dari penulisan buku tersebut.
“Buku ini ditulis dengan melihat aktor-aktor politik dan juga aktor LSM yang ikut berperan. Kisah pilu warga dan usaha yang giat menuntut keadilan menjadi bagian penting dari buku ini,” kata mantan Redaktur Megapolitan Koran Tempo itu.
Sebelum sesi diskusi dimulai, panitia memutar rekaman video sambutan dari Anies Baswedan dan Noer Fauzi Rachman, akademisi dari University of California, Berkeley yang turut menjadi narasumber dalam penulisan buku. Hadir pula testimoni dari warga Kampung Akuarium, Dharma Diyani, serta mantan Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Yusmada Faizal. Dalam sambutannya, Anies menyampaikan bahwa sebuah kota sesungguhnya berbicara melalui kebijakan dan tindakannya terhadap warga.
“Ketika sebuah kota menggusur, kota itu berkata: ‘Kamu tidak terlihat.’ Ketika sebuah kota membangun tanpa bertanya, kota itu berkata: ‘Suaramu tidak penting,’” ujar Anies. Sebaliknya, ketika kota duduk bersama warga, mendengar dan merancang bersama, kota sedang mengakui keberadaan mereka sebagai bagian dari kota itu sendiri.
Bagi Yusmada Faizal, pengalaman Kampung Akuarium dapat menjadi pelajaran berharga bagi daerah lain yang menghadapi persoalan permukiman padat. Sementara itu, arsitek Kamil Muhammad menilai keterlibatan pendamping dan arsitek sangat penting untuk memastikan pembangunan tidak sekadar menghadirkan bangunan baru, tetapi juga menjaga kehidupan sosial warga. Direktur Eksekutif Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja, mengaku senang melihat Kampung Susun Akuarium akhirnya berdiri setelah lama mendapat stigma buruk.
“Namun tidak perlu semua kota dibangun vertikal seperti ini, kecuali di kota-kota yang sangat padat dan lahannya sempit,” ujarnya. Kini, Kampung Susun Akuarium bukan lagi sekadar simbol perlawanan warga terhadap penggusuran. Kawasan itu juga mendapat pengakuan internasional melalui penghargaan World Habitat Awards 2024.
Artikel Terkait
Jet Tempur AS Lumpuhkan Dua Kapal Tanker Iran yang Coba Terobos Blokade di Selat Hormuz
Prabowo Perintahkan Pembangunan Desa Nelayan di Pulau Miangas, Target Rampung Lima Bulan
Presiden Prabowo Joget Bersama Warga di Pulau Miangas Usai Tinjau SMKN 2 Talaud
Patroli Gabungan Brimob dan Polres Metro Jakarta Timur Bubarkan Balap Liar, Amankan Tujuh Motor