Antrean Solar di Palembang Bikin Sopir Truk Kelabakan

- Minggu, 23 November 2025 | 17:36 WIB
Antrean Solar di Palembang Bikin Sopir Truk Kelabakan
Keluhan Sopir Truk Palembang

Antrean panjang untuk solar di beberapa SPBU Palembang bikin warga, terutama sopir truk, mengeluh. Mereka harus berjubel berjam-jam, seringkali tanpa kepastian dapat jatah.

Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Togar, sopir berusia 40 tahun. Bagi dia, waktu pengisian yang terbatas dan sistem pembayaran yang ribet jadi masalah utama.

"Saya mengaku sedang kesusahan sekarang karena antrean yang panjang dan waktu yang tidak relevan lagi. Pengisian solar untuk truk pukul 22.00 WIB sampai 04.00 WIB. Sebelum dibuka antrean sudah panjang, dan bisa jadi sopir truk yang berada di antrean paling belakang tidak kebagian," kata dia.

Belum lagi soal aplikasi MyPertamina yang sering bermasalah. Padahal, bayar pakai tunai nggak boleh, harus pakai QRIS aplikasi itu.

"Ada yang gangguan, ada juga yang terkendala karena permasalahan Handphone mereka. Jadi mereka sudah mengantre panjang-panjang tau-taunya gagal. Sehingga mereka mau tidak mau mengantre ulang kembali di keesokan harinya," ujarnya.

Yang bikin Togar semakin kesal, aturan waktunya sangat ketat. Mesinnya otomatis mati begitu jam habis, nggak peduli masih ada yang ngantre.

"Kalau misalnya kita mengisi minyak di jam 10 malam kurang, itu tetap tidak bisa karena minyaknya tidak akan keluar dari mesin. Mesin itu sudah diatur waktunya, jadi jika memang batas waktu sudah diluar jam yang ditentukan, maka sopir yang lain tidak kebagian lagi," jelasnya dengan pasrah.

Dia berharap pemerintah daerah bisa ambil sikap. Soalnya, waktu yang terbuang untuk antre bikin mereka kelelahan sebelum mulai perjalanan.

"Kami ini hanya mencari uang untuk bertahan hidup. Penghasilan kami juga tidak seberapa. Jadi dimohon untuk kebijaksanaannya," pungkas Togar.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar