PSM Makassar Krisis Identitas Usai Kalah Ketiga Kali Beruntun

- Rabu, 25 Februari 2026 | 23:30 WIB
PSM Makassar Krisis Identitas Usai Kalah Ketiga Kali Beruntun

Peluit panjang itu menggema di Stadion Gelora Bung Tomo, Rabu malam, menutup laga dengan rasa getir bagi PSM Makassar. Mereka tumbang 0-1 dari Persebaya. Tapi, yang lebih mengusik ketimbang skor akhir adalah pertanyaan yang menggantung: ke mana perginya permainan Juku Eja?

Ini sudah kekalahan ketiga beruntun. Posisi mereka di klasemen Super League 2025/2026 pun terpuruk di papan bawah. Situasinya mulai mengkhawatirkan.

Namun begitu, yang bikin para pendukung gelisah bukan cuma poin yang hilang. Cara mereka kalah. Tim ini seperti kehilangan jati dirinya sendiri disiplin, agresif, efisien dalam transisi, semua itu seakan menguap. Yang tersisa adalah bayangan pucat dari tim juara Liga 1 dua musim silam.

Kemenangan jadi barang langka akhir-akhir ini. Satu-satunya cahaya cuma kemenangan atas PSBS Biak. Selebihnya? Stagnan, bahkan menurun. Kekalahan dari Persija Jakarta mungkin masih bisa dicari pembenarannya. Tapi jatuh lagi di Surabaya memperlihatkan pola yang mengganggu: PSM sulit mengendalikan permainan, serangan terbangun lambat, dan momentum selalu berpihak ke lawan.

Ironisnya, di laga ini Persebaya justru tampil dengan filosofi yang dulu jadi ciri khas PSM. Di bawah arahan Bernardo Tavares pelatih yang dulu membangun fondasi kejayaan Juku Eja Anak Bajul Ijo main dengan intensitas tinggi dan pressing disiplin sejak menit pertama.

Gol tunggal Paulo Gali Freitas di menit ke-27 seperti potret sempurna masalah PSM. Itu lahir dari transisi cepat dan penyelesaian klinis, skema yang dulu mereka kuasai. Kini, justru jadi senjata lawan.

PSM sebenarnya ciptakan peluang. Gledson Paixao dan Luka Cumic mencoba. Tapi persoalan lama muncul lagi: penyelesaian akhir yang tumpul. Serangan kerap mandek di sepertiga akhir lapangan. Kreativitas minim, keputusan lambat. Kalau bukan karena aksi apik kiper Reza Arya Pratama, kekalahan bisa lebih telak.

Yang bikin miris, ini lebih dari sekadar krisis hasil. Ini krisis identitas. Dulu, PSM punya struktur jelas: pertahanan rapat, pressing berdisiplin, serangan balik seperti kilat. Sekarang? Permainan mereka terasa reaktif. Hanya merespons, bukan mengendalikan.

Memang, pergantian pelatih dan adaptasi taktik butuh waktu. Tomas Trucha punya pekerjaan rumah besar. Tapi kompetisi tak pernah memberi waktu panjang. Sepak bola modern tak cuma soal taktik, tapi juga momentum psikologis. Dan saat ini, momentum itu jelas-jelas tidak ada di sisi Makassar.

Statistik tak berbohong. Peringkat 13, cuma selisih lima poin dari zona merah. Tiga kekalahan beruntun membuat jarak dengan jurang degradasi makin tipis. Bandingkan dengan Persebaya yang justru bangkit, naik ke posisi lima. Perbedaannya nyata: stabilitas mental dan kejelasan sistem.

Kekecewaan suporter mulai meluap. Kritik keras berhamburan, bahkan ada yang bilang kualitas permainan PSM kini mirip tim Liga 2. Mungkin terdengar ekstrem, tapi itu ungkapan kekecewaan yang wajar. Secara materi pemain, mereka jelas bukan tim kelas bawah. Tapi di lapangan, mereka tak bermain sebagai satu kesatuan yang solid. Serangan tumpul, lini tengah tak dominan, pertahanan kerap kehilangan fokus di momen krusial.

Waktu untuk merenung tak banyak. Ujian berikutnya sudah menanti: Persita Tangerang. Laga ini bisa jadi titik balik, atau justru memperdalam krisis. Bagi Trucha, ini lebih dari sekadar perebutan tiga poin. Ini soal membuktikan bahwa timnya masih punya nyali di kasta tertinggi.

Kalau performa tak kunjung membaik, kritikan emosional suporter bisa berubah jadi kenyataan pahit. Sebuah tim besar yang perlahan kehilangan levelnya sendiri. Dan dalam sepak bola, jatuhnya sebuah identitas sering kali lebih berbahaya daripada sekadar deretan kekalahan.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar