Dengan begitu, mereka bukan sekadar konsumen pasif yang menerima bantuan. Di sisi lain, mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang mandiri dan berkontribusi pada perekonomian.
"Makanya ketika program MBG ini berjalan harus diikuti oleh apa?" tanya Rizal retoris.
"Stimulus kebijakan yang bisa mendorong produktivitas mereka untuk mendapat upah yang lebih baik di masa depan. Jadi sifatnya harus struktural, memperbaiki," jelasnya.
Singkatnya, kuncinya ada pada pendekatan yang holistik. Tata kelola yang baik akan memastikan bantuan makanan hari ini tidak sia-sia. Justru, ia harus menjadi batu loncatan untuk menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas dan berjangka panjang. Kalau tidak, ya, program sebesar ini berisiko hanya menjadi angka dalam laporan belaka.
Artikel Terkait
KAI Ingatkan Batas Ukuran dan Tarif Kelebihan Bagasi Kereta Jelang Mudik
Kemensos: 90% Bansos Reguler Tersalur, Rp632 Miliar Dikucurkan untuk Korban Bencana Sumatera
BRI Salurkan KUR Rp178,8 Triliun dan KPR Subsidi Rp16,6 Triliun Sepanjang 2025
Pemerintah Perpanjang Tenor Dana SAL hingga 2026, BRI Sambut Positif