Di Kabupaten Bengkulu Tengah, Kamis lalu, suasana di sekitar Masjid Padang Betuah terasa berbeda. Menteri Kebudayaan Fadli Zon hadir untuk meresmikan pemugaran cagar budaya yang satu ini. Langkah ini jelas bukan sekadar perbaikan bangunan, tapi upaya nyata untuk menguatkan pelestarian jejak peradaban Islam di wilayah itu.
"Kita memang harus menghargai jejak perjalanan para pendahulu," ujar Fadli Zon.
Dia menambahkan, saat ini pemerintah sedang mendorong akselerasi dalam hal perlindungan, pengembangan, hingga pemanfaatan cagar budaya. "Saat ini kita melakukan akselerasi dalam perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatannya," tegasnya.
Masjid yang berdiri kokoh sejak abad ke-19 ini bukanlah bangunan biasa. Ia adalah saksi bisu. Sebuah bukti sejarah perkembangan Islam sekaligus contoh arsitektur tradisional Bengkulu yang masih bertahan. Keberadaannya menandai proses penyebaran agama Islam di pesisir Sumatera, tumbuh beriringan dengan dinamika sosial masyarakat setempat.
Menurut Menbud, cerita dan sejarah punya peran sentral. Dari situlah kita bisa belajar.
"Cerita atau sejarah adalah bagian yang sangat penting, karena dari situlah kita dapat melakukan refleksi, literasi, dan edukasi," paparnya.
Pandangan serupa disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni. Bagi dia, merawat cagar budaya punya makna yang lebih dalam dari sekadar menjaga fisik bangunan tua.
"Menjaga kelestarian cagar budaya ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Bukan hanya menjaga bangunannya, tetapi juga terus merawat serta memperkuat identitas kebudayaan, menanamkan kebanggaan pada generasi selanjutnya sebagai nilai sejarah dan budaya," ucap Herwan.
Nah, soal dasar hukumnya, Masjid Padang Betuah sebenarnya sudah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kabupaten. Surat Keputusan Bupati Bengkulu Tengah Nomor 420-424 Tahun 2024 jadi landasannya. Penetapan itu penting agar upaya pemugaran bisa menjaga keaslian bentuk dan nilai sejarahnya, tidak asal ubah.
Acara peresmiannya sendiri ditandai dengan penandatanganan prasasti. Tampak hadir perwakilan pemerintah daerah dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII. Harapannya jelas: masjid ini kelak tak cuma jadi tempat ibadah, tapi juga pusat edukasi dan penguatan identitas budaya warga Bengkulu Tengah.
Bicara soal sejarah, warga setempat seperti Dahlini masih punya kenangan jelas tentang kondisi awal masjid ini. Dulu, bangunannya sangat sederhana.
"Dulu masjid ini berdinding bidai atau bilah bambu. Karena rapuh, kami bergotong royong mengangkut pasir pantai untuk pondasi dan dinding bangunan," kenang Dahlini.
Perbaikan bertahap yang dimulai dari gotong royong warga itu, kini mendapatkan napas baru dengan pemugaran yang lebih menyeluruh. Sebuah perjalanan panjang dari bangunan bambu menjadi cagar budaya yang dilestarikan.
Artikel Terkait
Pemukim Yahudi Kembali Serbu Masjid Al-Aqsa di Bawah Kawalan Polisi Israel, Kibarkan Bendera di Halaman Masjid
Polisi Tangkap Pria Perusak Mobil di Tol JORR yang Videonya Viral
Prabowo dan Megawati Tampak Akrab dalam Peringatan Hari Lahir Pancasila ke-80
Pancasila di Tengah Kebisingan Politik: Momentum Mengembalikan Demokrasi pada Etika dan Kepentingan Rakyat