Wall Street Bersiap Hadapi Pekan Penuh Tantangan dengan Data Tenaga Kerja dan Inflasi

- Minggu, 31 Mei 2026 | 07:15 WIB
Wall Street Bersiap Hadapi Pekan Penuh Tantangan dengan Data Tenaga Kerja dan Inflasi

Wall Street bersiap menghadapi pekan yang penuh tantangan. Investor akan mencermati data terbaru pasar tenaga kerja Amerika Serikat sambil menimbang apakah inflasi yang kembali memanas dan potensi kenaikan suku bunga dapat menghentikan laju reli saham yang telah berlangsung selama sembilan pekan berturut-turut.

Laporan ketenagakerjaan bulan Mei dijadwalkan dirilis pada 5 Juni 2026. Data ini menjadi krusial di tengah kekhawatiran bahwa inflasi yang tinggi dan berkepanjangan dapat mendorong bank sentral AS, Federal Reserve, untuk menaikkan suku bunga langkah yang tidak diinginkan oleh pasar saham. Berdasarkan jajak pendapat Reuters pada Jumat, para ekonom memperkirakan tingkat pengangguran akan berada di angka 4,3 persen dengan penambahan 85.000 lapangan kerja.

Namun, jika laporan menunjukkan peningkatan pekerjaan lebih dari 150.000, hal itu justru berpotensi menjadi bumerang bagi pasar saham. Lonjakan tersebut dapat memicu kekhawatiran baru mengenai overheating ekonomi dan memperkuat argumen bagi Fed untuk bertindak lebih agresif.

Di sisi lain, laporan keuangan kuartalan Broadcom yang akan diumumkan pada Rabu mendatang menjadi ujian penting bagi sektor kecerdasan buatan (AI) yang tengah mengalami booming. Perusahaan semikonduktor yang menempati peringkat keenam terbesar di AS berdasarkan kapitalisasi pasar ini diperkirakan akan memberikan sinyal mengenai keberlanjutan pertumbuhan di tengah pembangunan infrastruktur AI yang masif.

Sejak titik terendah pasar pada 30 Maret lalu, Indeks Semikonduktor SE Philadelphia telah melonjak sekitar 80 persen. Saham Broadcom sendiri naik lebih dari 50 persen dalam periode yang sama, sementara indeks S&P 500 tercatat naik lebih dari 19 persen. Optimisme terhadap keuntungan produsen chip telah menjadi motor utama kebangkitan pasar setelah saham-saham teknologi dan megacap mengalami koreksi signifikan pada Maret lalu.

“Kelompok saham itu benar-benar mengalami koreksi yang signifikan. Yang menjadi pendorong pasar adalah investor yang melihat nilai-nilai yang telah pulih, pendapatan yang masih tumbuh cukup cepat, dan kemudian membelinya,” ujar Chuck Carlson, CEO Horizon Investment Services.

Selain faktor domestik, pasar juga mendapat dukungan dari harapan akan berakhirnya perang Iran yang telah berlangsung selama tiga bulan. Meski demikian, harga aset tetap rentan terhadap perkembangan konflik tersebut. Data terbaru menunjukkan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) naik 3,8 persen dalam 12 bulan hingga April kenaikan terbesar sejak Mei 2023 yang didorong oleh harga energi yang lebih tinggi akibat perang di kawasan Timur Tengah.

Sementara itu, pekan depan juga akan diwarnai rilis data aktivitas sektor manufaktur dan jasa AS. Laporan inflasi penting lainnya yang akan terbit pekan berikutnya menjadi salah satu data terakhir sebelum pertemuan Federal Reserve pada 16-17 Juni 2026, yang akan menjadi sidang pertama yang dipimpin oleh Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh. Potensi kenaikan suku bunga, bersamaan dengan meningkatnya inflasi, telah menjadi faktor di balik kenaikan imbal hasil obligasi dalam beberapa waktu terakhir.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar