Di tengah sorotan dunia, Kim Jong Un kembali menyampaikan pesan tegas. Dalam pidatonya di Kongres Kesembilan Partai Buruh, pemimpin Korea Utara itu menegaskan fokusnya untuk memperluas dan memperkuat persenjataan nuklir negara. Menurutnya, prospek hubungan dengan Amerika Serikat sepenuhnya bergantung pada sikap Washington. Tak ada kompromi.
"Merupakan tekad kuat partai kita untuk lebih memperluas dan memperkuat kekuatan nuklir nasional kita," ujar Kim.
Ia menambahkan, "Kita akan fokus pada proyek-proyek untuk meningkatkan jumlah senjata nuklir dan memperluas sarana operasional nuklir." Pernyataan itu dilaporkan langsung oleh media pemerintah, KCNA, dan dikutip oleh sejumlah kantor berita internasional.
Kalau kita lihat data dari lembaga think tank SIPRI tahun lalu, ambisi Pyongyang ini punya basis yang nyata. Mereka diperkirakan sudah punya sekitar 50 hulu ledak. Bahkan, bahan fisil yang dimiliki memungkinkan produksi puluhan hulu ledak lagi. Dan produksi bahan itu sendiri disebut terus dipercepat.
Rencananya tak berhenti di situ. Laporan KCNA juga membeberkan ambisi Korut untuk mengembangkan rudal balistik antarbenua yang lebih canggih. Mereka menyasar rudal yang bisa diluncurkan dari kapal selam, sistem serangan berbasis kecerdasan buatan, hingga senjata anti-satelit. Semuanya terdengar seperti plot film fiksi ilmiah, tapi ini nyata.
Kongres itu sendiri ditutup dengan parade militer megah di Pyongyang, Rabu waktu setempat. Alun-alun Kim Il Sung tampak terang benderang, dijejali formasi tentara yang berbaris rapi. Dari podium, Kim Jong Un menyaksikan bersama putrinya, Ju Ae, dan para pejabat tinggi partai.
Nuansa perang modern begitu kental. Sebagian pasukan mengenakan kamuflase dan perlengkapan tempur khusus. Di langit, jet-jet tempur melintas rendah, menambah kesan kekuatan yang ingin ditampilkan. Parade ini bukan sekadar pertunjukan; ini adalah pernyataan.
Artikel Terkait
Polres Siak Bongkar Penipuan Batu Delima, Empat Tersangka Dibekuk, ASN Rugi Ratusan Juta
Gatot Nurmantyo Kenang Ryamizard Ryacudu: Mewujudkan Jalan di Aceh yang Sempat Dianggap Mustahil
Wakil Ketua MPR: Pemimpin Paripurna Harus Selesai dengan Dirinya Sendiri
Iran Tegaskan Tak Akan Teken Kesepakatan Sebelum Hak Rakyat Terjamin, Kecurigaan Warnai Negosiasi dengan AS