Iran Tegaskan Tak Akan Teken Kesepakatan Sebelum Hak Rakyat Terjamin, Kecurigaan Warnai Negosiasi dengan AS

- Senin, 01 Juni 2026 | 10:20 WIB
Iran Tegaskan Tak Akan Teken Kesepakatan Sebelum Hak Rakyat Terjamin, Kecurigaan Warnai Negosiasi dengan AS

Ketidakpercayaan mendalam mewarnai sikap Iran terhadap Amerika Serikat dalam setiap pembahasan kesepakatan damai. Mohammad Bagher Ghalibaf, perunding utama Iran sekaligus Ketua Parlemen, dengan tegas menyatakan bahwa Teheran tidak akan pernah menyetujui perjanjian apa pun sebelum hak-hak rakyat Iran dijamin sepenuhnya. Peringatan ini menjadi sinyal keras bahwa jalan menuju resolusi konflik masih terjal dan penuh kecurigaan.

Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan melalui televisi pemerintah, Ghalibaf menekankan sikap negaranya yang tidak mudah percaya pada lawan bicara. “Kami tidak akan menyetujui perjanjian apa pun sampai kami yakin bahwa hak-hak rakyat Iran telah ditegakkan,” ujarnya, Senin (1/6/2026). Ia juga menambahkan bahwa para negosiator Iran tidak mempercayai kata-kata maupun janji-janji musuh.

Pernyataan tersebut muncul setelah media-media Amerika Serikat, seperti New York Times dan Axios, memberitakan bahwa Presiden Donald Trump telah mengirimkan versi revisi kerangka kerja perdamaian. Laporan pada Sabtu (30/5) itu menyebutkan bahwa draf baru berisi persyaratan yang lebih keras untuk dipertimbangkan Iran. Meski demikian, detail perubahan dalam draf tersebut tidak diungkapkan secara gamblang.

Setiap perubahan yang dilakukan pada draf kesepakatan berpotensi menunda lebih lama lagi proses untuk secara resmi mengakhiri perang. Trump sendiri telah menyatakan bahwa prioritas utamanya adalah menghentikan Iran dari pengembangan senjata nuklir dan membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Jalur tersebut secara efektif telah ditutup oleh Iran sejak konflik dimulai pada akhir Februari.

“Satu-satunya jaminan yang harus saya miliki adalah tidak akan ada senjata nuklir. Mereka telah menyetujuinya, dan itu sangat menarik,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News yang dipandu oleh menantunya sendiri, Lara Trump. Namun, klaim ini langsung dibantah oleh Iran.

Di sisi lain, Iran menepis pernyataan Trump dan menegaskan bahwa kedua pihak masih memiliki perbedaan pendapat yang jauh mengenai isu-isu kunci dalam negosiasi. Sikap saling curiga ini menunjukkan bahwa kesepakatan damai masih menjadi target yang sulit diraih dalam waktu dekat.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar