Di tengah perkuliahan, banyak mahasiswa lebih memilih mengetik pertanyaan ke ChatGPT daripada mengangkat tangan di kelas. Fenomena ini bukan sekadar soal kemalasan, melainkan cerminan perubahan cara belajar di era kecerdasan buatan.
Seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris semester empat mengaku hampir selalu membuka ChatGPT saat tidak memahami materi kuliah. Menurutnya, AI mampu menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana, dan ia bisa meminta penjelasan ulang berkali-kali tanpa rasa malu. Mahasiswa lain dari Fakultas Ekonomi menambahkan, AI jauh lebih praktis karena tersedia 24 jam, sementara dosen tidak selalu bisa dihubungi di malam hari.
“AI tidak pernah membuatku merasa bodoh,” kata seorang mahasiswa. “Aku bisa mengulang pertanyaan berkali-kali tanpa takut dihakimi.” Kenyamanan mental inilah yang menjadi salah satu alasan terbesar mahasiswa beralih ke AI.
Kehadiran AI generatif seperti ChatGPT memang mengubah kebiasaan belajar. Dulu, mahasiswa harus membuka banyak buku atau menunggu jadwal konsultasi. Kini, jawaban bisa didapat dalam hitungan detik. Penelitian Chan dan Hu (2025) menemukan bahwa mahasiswa terutama menggunakan ChatGPT untuk menghasilkan ide, meringkas bacaan, menjelaskan konsep, dan mendukung penulisan akademik.
Namun, kemudahan ini juga punya sisi gelap. Beberapa mahasiswa pernah mendapatkan jawaban AI yang tidak seakurat jurnal ilmiah. UNESCO (2023) mengingatkan bahwa AI harus meningkatkan, bukan menggantikan, peran manusia dalam pendidikan. Berpikir kritis tetap merupakan kemampuan unik manusia yang harus diperkuat bersamaan dengan penggunaan AI.
AI dan Dosen, Bukan Lawan tapi Mitra
Meski AI membantu, mahasiswa tetap mengakui peran dosen tak tergantikan. “AI bisa memberikan informasi, tetapi pendidik memberikan kebijaksanaan, penilaian, dan hubungan manusia,” demikian pernyataan UNESCO yang dikutip seorang mahasiswa. Diskusi mendalam, kritik terhadap argumen, dan bimbingan penelitian adalah hal-hal yang tidak bisa diberikan mesin.
Seorang mahasiswa mengatakan, “Saya belajar paling banyak saat diskusi dengan dosen, mendengar pengalaman mereka, atau ngobrol dengan teman sekelas. Itu tidak bisa digantikan oleh obrolan dengan mesin.”
Fenomena ini bukan ancaman, melainkan pengingat bahwa proses pembelajaran perlu menyesuaikan diri dengan teknologi. Mahasiswa dituntut menggunakan AI secara bijak bukan sebagai jalan pintas, melainkan alat bantu untuk memahami materi sebelum berdiskusi dengan dosen.
“Tantangan terbesar mahasiswa di era AI bukan memilih antara AI atau dosen,” ujar seorang mahasiswa. “Tantangannya adalah memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan keberanian untuk berpikir kritis, bertanya, dan berdialog langsung dengan manusia.”
Artikel Terkait
Wall Street Melemah, Saham Semikonduktor Terpuruk Dipicu Kekhawatiran AI
16 Peraih Nobel Desak Dunia Bersiap Hadapi Dampak AI yang Lebih Besar dari Revolusi Industri
Ekonomi Singapura Tumbuh 5,7 Persen di Kuartal II, Ekspor AI Jadi Pendorong Utama
OpenAI Tutup Browser Atlas, Fokus Kembangkan ChatGPT sebagai Asisten Digital