Sebanyak 16 peraih Nobel bersama lebih dari 200 ekonom dan peneliti kecerdasan buatan (AI) mendesak lembaga global untuk segera bersiap menghadapi dampak nyata AI terhadap ekonomi dunia. Dalam surat pernyataan yang dirilis Senin, 13 Juli 2026, mereka memperingatkan bahwa dampak AI bisa melampaui Revolusi Industri dan berpotensi menyebabkan gelombang pengangguran massal.
Surat yang ditulis di laboratorium ekonomi digital Universitas Stanford, AS, itu ditandatangani oleh para ekonom terkemuka, ilmuwan komputer, serta eksekutif perusahaan AI besar seperti Anthropic, Google, dan OpenAI. Gerakan bersama ini diberi nama We Must Act Now.
Para penandatangan menyerukan kepada pemimpin negara, pembuat kebijakan, dan pemimpin teknologi untuk segera bertindak. Mereka mendesak pemahaman mendalam tentang transformasi ekonomi akibat AI, lalu "membangun insentif, pengamanan, dan institusi yang dibutuhkan untuk mengarahkan AI ke arah yang melengkapi manusia dan bermanfaat bagi masyarakat."
Laboratorium Universitas Stanford menyatakan bahwa surat tersebut telah ditandatangani oleh lebih dari 200 ekonom dan peneliti AI, termasuk 16 pemenang Hadiah Nobel. Ilmuwan komputer dan pelopor AI, Yoshua Bengio, yang ikut menandatangani, mengatakan dalam pernyataan terpisah bahwa berdasarkan lintasan perkembangan AI, "sangat mungkin bahwa AI akan secara drastis mengubah perekonomian kita."
Artikel Terkait
China Siapkan Aturan Baru untuk Perketat Ekspor Teknologi AI dan Chip
New York Gunakan AI untuk Audit Ribuan Regulasi Usang
Bos SoftBank Sebut Investasi AI Butuh Rp90.000 Triliun per Tahun, Bantah Gelembung
UN Women Soroti Bias Gender dalam Sistem Kecerdasan Buatan