JAKARTA Banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang sejumlah wilayah di Sumatra, terutama Aceh, meninggalkan jejak kehancuran yang sangat luas. Laporan terbaru dari Kepala BNPB, Suharyanto, menggambarkan betapa parahnya dampak bencana ini terhadap kehidupan warga. Data itu dia sampaikan langsung dalam sebuah rapat koordinasi dengan Presiden Prabowo Subianto di Aceh Besar.
Yang paling menyentuh adalah kondisi rumah penduduk. Suharyanto menyebut, tak kurang dari 37.546 unit rumah warga mengalami kerusakan. Angka itu mencakup segala tingkatan, dari yang rusak ringan, sedang, hingga berat.
“Kerusakan ini meliputi rumah masyarakat yang rusak sampai 37.546 unit, baik yang rusak berat termasuk yang hilang serta rusak sedang dan rusak ringan,” ujarnya.
Nah, kategori "rusak berat" ini juga mencakup rumah-rumah yang sama sekali hilang, tersapu oleh derasnya air bah. Penentuan kategori sedang dan ringan pun, menurutnya, punya kriteria tersendiri yang harus diperhatikan.
Namun begitu, kerusakan tak cuma berhenti di permukiman. Infrastruktur publik porak-poranda. Jembatan putus, jalan hancur, sekolah dan tempat ibadah rusak. Pondok pesantren, rumah sakit, sampai puskesmas pun tak luput. Lahan pertanian, kebun, sawah, bahkan peternakan dan perkantoran semua ikut terdampak. Kerugiannya jelas sangat signifikan.
Suharyanto dengan tegas menekankan bahwa data yang ada masih bersifat sementara. Tim di lapangan masih terus bekerja.
Artikel Terkait
KLH Tuntut Enam Perusahaan Rp4,9 Triliun, Dituding Perparah Bencana di Sumatra
Bukan Laba, Ini Alasan di Balik Margin 7 Persen BULOG
BTN Pacu Laba 22 Persen, Siapkan Investasi Triliunan untuk 2026
Manajer Lula Lahfah Penuhi Panggilan Polisi, Pemeriksaan Berlangsung Hampir Seharian