Indef Ingatkan Pemerintah: Program Makan Gratis Bisa Jadi Beban Fiskal Jika Tak Ditata

- Jumat, 09 Januari 2026 | 13:40 WIB
Indef Ingatkan Pemerintah: Program Makan Gratis Bisa Jadi Beban Fiskal Jika Tak Ditata

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memang sudah digadang-gadang sebagai salah satu program unggulan pemerintah. Tapi, menurut M. Rizal Taufikurrahman dari Indef, ada satu hal krusial yang tak boleh dilupakan: tata kelola. Tanpa itu, program ini bisa jadi malah menimbulkan masalah baru di kemudian hari.

Rizal menekankan, MBG jangan cuma dipandang sebagai bantuan sosial sesaat. Memang, bantuan makanan itu penting. Namun begitu, jika tidak dikelola dengan benar, risikonya besar. Penerima manfaat mungkin hanya merasakan keuntungan jangka pendek, tanpa ada dampak yang berkelanjutan bagi hidup mereka.

"Tata kelola menjadi penting," tegas Rizal dalam sebuah diskusi, Kamis lalu.

"Jangan sampai program MBG ini justru menjadi beban fiskal antargenerasi tanpa ada imbal hasil konteks ekonomi jangka panjang secara memadai," imbuhnya.

Nah, poinnya di sini. Menurut ekonom ini, pemerintah harus punya visi lebih jauh. Program ini harus bisa membuka peluang. Artinya, selain mendapat makanan bergizi, penerima yang kebanyakan adalah anak-anak dan remaja perlu diberi ruang untuk meningkatkan produktivitas mereka di masa depan.

Dengan begitu, mereka bukan sekadar konsumen pasif yang menerima bantuan. Di sisi lain, mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang mandiri dan berkontribusi pada perekonomian.

"Makanya ketika program MBG ini berjalan harus diikuti oleh apa?" tanya Rizal retoris.

"Stimulus kebijakan yang bisa mendorong produktivitas mereka untuk mendapat upah yang lebih baik di masa depan. Jadi sifatnya harus struktural, memperbaiki," jelasnya.

Singkatnya, kuncinya ada pada pendekatan yang holistik. Tata kelola yang baik akan memastikan bantuan makanan hari ini tidak sia-sia. Justru, ia harus menjadi batu loncatan untuk menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas dan berjangka panjang. Kalau tidak, ya, program sebesar ini berisiko hanya menjadi angka dalam laporan belaka.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar